Penanaman modal asing (PMA) masih mendominasi realisasi investasi di Provinsi Bali dalam lima tahun terakhir. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat total investasi di Bali mencapai Rp 123,65 triliun, dengan porsi terbesar berasal dari investor luar negeri.
Data tersebut disampaikan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Todotua Pasaribu dalam pemaparan di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jayasabha, Denpasar, Kamis (22/1/2026).
"Dalam catatan kami itu realisasi investasi itu Rp 123,65 triliun di mana terdiri dari PMA Rp 72,83 triliun dan PMDN-nya Rp 48,83 triliun," kata Todotua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PMA Terus Unggul
Todotua menyebut, dalam tiga tahun terakhir nilai PMA di Bali konsisten lebih tinggi dibandingkan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Hal tersebut menunjukkan agresivitas investor asing dalam menanamkan modalnya di Bali.
"Dan memang PMA angkanya lebih tinggi daripada PMDN kurang lebih tiga tahun ke belakang. Artinya tiga tahun ke belakang agresif dunia usaha luar untuk melakukan investasi kontribusi investasi di Bali itu sangat siginifikan," jelasnya.
Secara umum, pertumbuhan investasi di Bali tercatat meningkat sekitar 17,2 persen per tahun. Namun, lonjakan paling signifikan terjadi dalam dua tahun terakhir.
Pada 2023, total investasi di Bali tercatat sebesar Rp 18,92 triliun. Angka tersebut melonjak menjadi Rp 36 triliun pada 2024, dan kembali meningkat pada 2025 menjadi Rp 42,8 triliun.
Singapura Terbesar
Berdasarkan asal negara, Singapura menjadi penyumbang PMA terbesar di Bali dengan nilai investasi Rp 9,74 triliun. Posisi berikutnya ditempati Australia sebesar Rp 9,42 triliun, Rusia Rp 9,16 triliun, Prancis Rp 6,68 triliun, serta Hongkong Rp 4,21 triliun.
"Ini sebenarnya sederhana, kepercayaan dunia internasional untuk berinvestasi terhadap Bali," ujar Todotua.
Sebaran Wilayah Investasi
Dari sisi wilayah, Kabupaten Badung menjadi daerah dengan nilai investasi tertinggi di Bali, mencapai Rp 61,7 triliun. Selanjutnya diikuti Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar, dan Tabanan. Sementara Kabupaten Bangli menjadi daerah dengan nilai investasi terendah, yakni di bawah Rp 1 triliun.
Pada 2025, Bali menempati peringkat ke-15 sebagai provinsi penyumbang investasi nasional dengan nilai Rp 42,8 triliun dan total 18.885 proyek.
Meski berada di urutan tersebut, Todotua menyebut Bali menjadi provinsi dengan kontribusi investasi tertinggi di sektor pariwisata. Provinsi di peringkat atas, kata dia, umumnya ditopang sektor sumber daya alam dan manufaktur.
"Karena kalau kita lihat dari 1 sampai 14 hampir rata-rata sebenarnya karena ada daerah-daerah yang memiliki sumber daya alam, manufakturing dan usaha lainnya," tandas dia.