Sejumlah penumpang menceritakan horornya serangan kelompok Houthi dari Yaman yang diikuti ledakan dan guncangan hebat di bandara Riyadh. Penumpang yang panik dan ketakutan berlarian mencari tempat aman. Serangan itu membuat sejumlah orang di bandara berlumuran darah hingga kehilangan tangan.
"Saya mendengar suara yang sangat keras, begitu keras hingga saya merasakan bandara berguncang," ujar seorang warga Riyadh seperti dilansir detikNews dari AFP, sehari setelah serangan mematikan yang dituduhkan Arab Saudi sebagai ulah Houthi yang didukung Iran di Yaman, Senin (12/10/2026).
"Sirene peringatan bandara berbunyi, dan saat itulah kepanikan bermula," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesaksian penumpang kepada AFP itu dengan syarat anonimitas. Sebab, adanya ancaman tindakan keras dari otoritas Saudi terhadap siapa pun yang angkat bicara mengenai serangan-serangan tersebut.
"Orang-orang yang berada di terminal 3 mulai berlari ke arah kami. Wajah sebagian dari mereka berlumuran darah," tutur warga berusia 32 tahun itu.
"Ada yang kehilangan tangan atau lengan. Orang-orang berlarian sambil menggendong korban luka yang berlumuran darah," sambungnya.
Petugas keamanan mengawal dia dan penumpang lainnya ke lantai bawah. Mereka menunggu selama satu jam sebelum diizinkan meninggalkan lokasi kejadian.
Seorang juru bicara militer Saudi menyebut serangan itu sebagai kejahatan perang. Serangan mematikan ini merupakan yang kedua dalam kurun waktu tiga hari. Menyusul serangkaian serangan Houthi yang menyasar bandara, instalasi energi, dan kapal tanker minyak Saudi setelah gencatan senjata bertahun-tahun antara kedua belah pihak kandas pada bulan Juli.
Kementerian kesehatan mengaktifkan protokol darurat untuk menangani insiden dengan banyak korban di sejumlah rumah sakit di Riyadh. Para dokter diperintahkan untuk melapor ke fasilitas medis di seluruh Riyadh.
"Jumlah korbannya jauh lebih banyak daripada yang pernah saya lihat di sini sebelumnya," ujar seorang dokter di Riyadh kepada AFP, seraya menambahkan bahwa beberapa jemaah yang hendak menuju Mekkah tiba dengan kain ihram putih ternoda darah.
"Para pasien mengalami cedera parah pada anggota tubuh serta pecahan kaca yang tertanam di wajah dan mata mereka," tambahnya.
Otoritas Arab Saudi sebagian besar memilih bungkam mengenai skala dan cakupan serangan Houthi selama tiga bulan terakhir. Hal itu membuat sebagian warga khawatir akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.
"Saya ingin pergi dari sini," ujar seorang warga Riyadh yang merasa frustrasi kepada AFP.
"Saya mengerti mereka tidak ingin menimbulkan kepanikan, tetapi bicaralah kepada kami. Adanya saluran komunikasi akan membuat kami merasa lebih tenang," ungkapnya.
Kesaksian Penumpang Lain
Warga lain memutuskan untuk tidak lagi bepergian melintasi kerajaan tersebut setelah terjebak di tengah situasi serangan. Warga negara India yang penerbangan transitnya menuju Riyadh dialihkan dan terpaksa mendarat di Dammam.
"Saya tidak akan pernah lagi terbang melintasi Arab Saudi," kata warga India itu. Ia bersama istri dan anaknya yang masih kecil tidur di terminal. Mereka mengaku tidak mendapatkan informasi apa pun dari maskapai penerbangan dan kehilangan bagasi mereka.
"Bukan hanya kami, ada setidaknya belasan orang lain dari penerbangan yang sama di sekitar saya yang terus menunggu sepanjang malam," ujarnya.
Seorang wisatawan lainnya sedang dalam perjalanan udara menuju Riyadh ketika pesawat tiba-tiba berbalik arah kembali ke Jeddah. Hal itu memicu ketakutan di kalangan sebagian penumpang. "Kami panik," ujar wanita berusia 39 tahun itu.
"Saya tidak ingin lagi mengalami pengalaman mengerikan seperti ini," imbuhnya.
Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini!
(iws/iws)