detikBali
Internasional

Horor Serangan Houthi di Bandara Riyadh, Penumpang: Orang-orang Berlumur Darah

Terpopuler Koleksi Pilihan
Internasional

Horor Serangan Houthi di Bandara Riyadh, Penumpang: Orang-orang Berlumur Darah


Rolando Fransiscus Sihombing - detikBali

Surveillance footage shows smoke and fire as people react at the moment of an attack at King Khalid International Airport in Riyadh, Saudi Arabia, October 10, 2026, in this frame from a handout video. Saudi Ministry of Media/Handout via REUTERS    THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. OVERLAY FROM SOURCE. VERIFICATION: Reuters verified the location from the CCTV of the boarding gate from the infrastructure and furniture that matched the archive and satellite imagery from terminal 3 at King Khalid International Airport. The date the video was filmed was confirmed with the timestamp on the surveillance footage. The Saudi Civil Aviation Authority said the airport operations were suspended after an attack that left many injured on October 10. No old results were found posted online before October 11.
Serangan kelompok Houthi dari Yaman yang diikuti ledakan dan guncangan hebat di bandara Riyadh. (Foto: via REUTERS/Saudi Ministry of Media)
Denpasar -

Sejumlah penumpang menceritakan horornya serangan kelompok Houthi dari Yaman yang diikuti ledakan dan guncangan hebat di bandara Riyadh. Penumpang yang panik dan ketakutan berlarian mencari tempat aman. Serangan itu membuat sejumlah orang di bandara berlumuran darah hingga kehilangan tangan.

"Saya mendengar suara yang sangat keras, begitu keras hingga saya merasakan bandara berguncang," ujar seorang warga Riyadh seperti dilansir detikNews dari AFP, sehari setelah serangan mematikan yang dituduhkan Arab Saudi sebagai ulah Houthi yang didukung Iran di Yaman, Senin (12/10/2026).

"Sirene peringatan bandara berbunyi, dan saat itulah kepanikan bermula," imbuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kesaksian penumpang kepada AFP itu dengan syarat anonimitas. Sebab, adanya ancaman tindakan keras dari otoritas Saudi terhadap siapa pun yang angkat bicara mengenai serangan-serangan tersebut.

"Orang-orang yang berada di terminal 3 mulai berlari ke arah kami. Wajah sebagian dari mereka berlumuran darah," tutur warga berusia 32 tahun itu.

ADVERTISEMENT

"Ada yang kehilangan tangan atau lengan. Orang-orang berlarian sambil menggendong korban luka yang berlumuran darah," sambungnya.

Petugas keamanan mengawal dia dan penumpang lainnya ke lantai bawah. Mereka menunggu selama satu jam sebelum diizinkan meninggalkan lokasi kejadian.

Seorang juru bicara militer Saudi menyebut serangan itu sebagai kejahatan perang. Serangan mematikan ini merupakan yang kedua dalam kurun waktu tiga hari. Menyusul serangkaian serangan Houthi yang menyasar bandara, instalasi energi, dan kapal tanker minyak Saudi setelah gencatan senjata bertahun-tahun antara kedua belah pihak kandas pada bulan Juli.

Kementerian kesehatan mengaktifkan protokol darurat untuk menangani insiden dengan banyak korban di sejumlah rumah sakit di Riyadh. Para dokter diperintahkan untuk melapor ke fasilitas medis di seluruh Riyadh.

"Jumlah korbannya jauh lebih banyak daripada yang pernah saya lihat di sini sebelumnya," ujar seorang dokter di Riyadh kepada AFP, seraya menambahkan bahwa beberapa jemaah yang hendak menuju Mekkah tiba dengan kain ihram putih ternoda darah.

"Para pasien mengalami cedera parah pada anggota tubuh serta pecahan kaca yang tertanam di wajah dan mata mereka," tambahnya.

Otoritas Arab Saudi sebagian besar memilih bungkam mengenai skala dan cakupan serangan Houthi selama tiga bulan terakhir. Hal itu membuat sebagian warga khawatir akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

"Saya ingin pergi dari sini," ujar seorang warga Riyadh yang merasa frustrasi kepada AFP.

"Saya mengerti mereka tidak ingin menimbulkan kepanikan, tetapi bicaralah kepada kami. Adanya saluran komunikasi akan membuat kami merasa lebih tenang," ungkapnya.

Kesaksian Penumpang Lain

Warga lain memutuskan untuk tidak lagi bepergian melintasi kerajaan tersebut setelah terjebak di tengah situasi serangan. Warga negara India yang penerbangan transitnya menuju Riyadh dialihkan dan terpaksa mendarat di Dammam.

"Saya tidak akan pernah lagi terbang melintasi Arab Saudi," kata warga India itu. Ia bersama istri dan anaknya yang masih kecil tidur di terminal. Mereka mengaku tidak mendapatkan informasi apa pun dari maskapai penerbangan dan kehilangan bagasi mereka.

"Bukan hanya kami, ada setidaknya belasan orang lain dari penerbangan yang sama di sekitar saya yang terus menunggu sepanjang malam," ujarnya.

Seorang wisatawan lainnya sedang dalam perjalanan udara menuju Riyadh ketika pesawat tiba-tiba berbalik arah kembali ke Jeddah. Hal itu memicu ketakutan di kalangan sebagian penumpang. "Kami panik," ujar wanita berusia 39 tahun itu.

"Saya tidak ingin lagi mengalami pengalaman mengerikan seperti ini," imbuhnya.

Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini!



(iws/iws)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan










Hide Ads