Liburan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari ternyata terganggu lantaran sakit perut dan harus bolak-balik ke toilet. Meski terdengar sepele, kondisi ini sangat mengganggu aktivitas liburan.
Keluhan semacam ini kerap dikaitkan dengan Bali Belly. Bali Belly adalah istilah populer di kalangan wisatawan untuk menyebut diare saat bepergian, khususnya di Bali.
Apa Itu Bali Belly?
Bali Belly adalah istilah yang sering digunakan untuk gangguan pencernaan saat bepergian atau biasa disebut traveler's diarrhea. Kondisi ini akan dialami wisatawan jika mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi mikroorganisme penyebab infeksi.
Dikutip dari Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), bakteri, virus, maupun parasit merupakan penyebab terjadinya Bali Belly. Meski namanya merujuk pada Bali, tetapi hal ini juga dapat dialami wisatawan saat mengunjungi daerah atau negara lain.
Penyebab Bali Belly
Bali Belly umumnya berkaitan dengan makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman. Kontaminasi tersebut bisa melalui proses pengolahan, penyimpanan, maupun penyajian makanan.
Berikut beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan ini.
- Air minum yang tidak aman
Air yang terkontaminasi, khususnya air keran, dapat menjadi media penyebaran mikroorganisme penyebab diare. - Makanan yang kurang matang
Makanan yang dimasak tidak sampai matang sempurna memiliki risiko tinggi diare dan menjadi sarang kuman penyebab infeksi. - Kebersihan makanan yang tidak terjaga
Makanan dapat terkontaminasi melalui tangan, peralatan, atau permukaan yang tidak higienis.
Perlu diketahui, makanan pedas bukan penyebab utama infeksi Bali Belly. Namun, makanan pedas dapat memicu atau memperburuk keluhan pencernaan yang sudah ada bagi sebagian orang.
Gejala Bali Belly yang Perlu Dikenali
Setiap orang memiliki gejala Bali Belly yang berbeda-beda, tergantung penyebab, tingkat keparahan, dan daya tahan tubuhnya. Berikut keluhan umum yang terjadi.
- Diare atau buang air besar lebih sering dengan tinja cair.
- Kram atau nyeri perut.
- Mual dan muntah.
- Perut kembung.
- Demam pada beberapa kasus.
Diare dan muntah dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan. Tanda dehidrasi juga perlu diwaspadai, seperti haus berlebihan, urine lebih sedikit atau berwarna gelap, pusing, dan tubuh terasa lemas.
Jika diare diikuti dengan darah, demam tinggi, nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, atau tanda dehidrasi parah lainnya, segera cari pertolongan medis. Pemeriksaan juga diperlukan jika keluhan tidak kunjung membaik.
Cara Mencegah Bali Belly Saat Liburan
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan wisatawan untuk mengurangi dan menghindari risiko Bali Belly selama berlibur sebagai berikut.
- Pilih air minum yang aman
Konsumsi air kemasan yang masih tersegel rapat atau air yang sudah diolah dengan aman. Keamanan es batu juga wajib diperhatikan. - Utamakan makanan yang matang sempurna
Pilih makanan yang dimasak hingga matang dan disajikan selagi hangat. Pastikan makanan terlindungi dari kontaminasi kuman. - Cuci tangan sebelum makan
Kontaminasi juga bisa terjadi dari diri sendiri. Gunakan sabun dan air mengalir untuk membasuh tangan. Jika tidak tersedia, gunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol dengan kadar setidaknya 60%. - Jaga asupan cairan
Minum air yang aman dengan cukup, terutama saat cuaca panas atau setelah banyak beraktivitas.
Langkah-langkah tersebut tidak menjamin seseorang bisa terhindar sepenuhnya dari gangguan pencernaan. Namun, menjaga keamanan makanan dan minuman serta kebersihan tangan dapat membantu mengatasi risikonya.
Cara Mengatasi Bali Belly
Jika mengalami diare saat liburan, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah mengganti cairan dalam tubuh yang hilang. Minum air yang aman dan pertimbangkan untuk mengonsumsi oralit sebagai bantuan pengganti cairan serta elektrolit.
Istirahat dan pantau perkembangan gejala. Jangan sembarangan mengonsumsi antibiotik karena tidak semua kasus diare disebabkan oleh bakteri yang memerlukan antibiotik. Penggunaan obat sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan saran tenaga medis.
Apabila keluhan makin berat hingga muncul tanda dehidrasi atau darah pada tinja, jangan menunda pemeriksaan medis. Menangani keluhan sejak awal dapat membantu mencegah kondisi memburuk dan mengurangi risiko gangguan selama perjalanan.
(hsa/hsa)