Bupati Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), Paulus Henuk, akan mengusulkan agar ASN asal daerahnya yang bertugas di wilayah rawan konflik seperti Papua dapat dipulangkan. Mereka nantinya diharapkan kembali mengabdi di Rote Ndao.
Paulus akan mengoordinasikan usulan tersebut dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB). Usulan itu disampaikan Paulus setelah melayat ke rumah duka Willy Mbuik di Rote Ndao, Sabtu (12/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Willy merupakan seorang ASN pada Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, yang tewas ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Muliama, Papua Pegunungan pada Rabu (9/9/2026).
"Saat melawat, keluarga korban menyampaikan harapan agar kakak korban yang juga ASN di Papua bisa pindah ke Rote Ndao. Karena merasa tidak aman, apalagi adik kandungnya sudah jadi korban," ujar Paulus, dalam sambungan telepon.
Paulus mengatakan Pemkab Rote Ndao memahami kekhawatiran ASN asal daerahnya yang ditugaskan di wilayah konflik. Karena itu, dia membuka kesempatan bagi ASN tersebut untuk kembali mengabdi di daerah asal.
"Karena itu sebagai Bupati saya harus memberi ruang buat mereka yang mau pulang ke tanah kelahiran. Akan saya koordinasikan dengan BKN maupun KemenPAN-RB," katanya.
Keselamatan ASN Jadi Pertimbangan
Paulus mengakui mutasi ASN memiliki ketentuan administratif, termasuk masa kerja. Namun, menurutnya, persoalan keselamatan jiwa tidak semestinya hanya diukur berdasarkan aturan administratif.
"Aturannya 10 tahun baru boleh pindah. Namun, kalau ancaman dan taruhannya nyawa maka negara harus hadir memberi rasa aman bagi ASN sebagai pelayan masyarakat," terangnya.
Ia juga mempersilakan bagi ASN asal Rote Ndao yang kini bertugas di Papua dapat untuk mengusulkan permohonan mutasi kembali ke daerah.
"Kalau mereka mau pulang kembali mengabdi di Rote Ndao, dengan tangan terbuka saya panggil pulang. Silakan ajukan surat, saya keluarkan rekomendasi persetujuan mutasi," tukasnya.
Ia menjelaskan langkah ini sebagai bentuk perlindungan kepada warga Rote Ndao, bukan mengurangi semangat pengabdian ASN. Baginya negara tidak boleh kalah dari para pelaku kejahatan kemanusiaan di Papua.
"Negara tidak boleh kalah dengan pelaku kejahatan kemanusiaan," kata Bupati.
Selain itu, ia juga mengecam dengan keras atas penembakan tiga ASN di Jayawijaya. Untuk itu ia mendesak TNI/Polri, untuk mengusut tuntas para pelaku.
"Betul, besok akan dilakukan pemakaman secara kedinasan. Kami juga minta agar kasus ini ditangani dengan baik," ujar Paulus.
Ia berharap tragedi ini menjadi momen pemerintah pusat memperkuat perlindungan ASN di wilayah rawan konflik seperti di Papua.
Sebelumnya, Johni Asadoma mengatakan permintaan keluarga telah disampaikan kepadanya saat menerima jenazah di Bandara El Tari Kupang. Ia mengatakan akan berkoordinasi dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB).
"Iya saya sudah dengar permintaan keluarga, akan saya koordinasikan dengan MenPAN RB dan BKN, untuk permintaan dari keluarga," kata Johni.