Belakangan ini, banyak netizen mengeluh lantaran nyamuk terasa makin banyak. Padahal, Indonesia kini tengah berada di musim kemarau. Kondisi ini, bagi netizen, terasa aneh karena nyamuk selama ini identik dengan musim hujan karena membutuhkan air untuk berkembangbiak.
Lantas, kenapa saat cuaca panas dan hujan berkurang nyamuk masih bisa berkeliaran?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah penelitian menunjukkan jawabannya tidak sesederhana kemarau berarti nyamuk berkurang. Khususnya pada Aedes aegypti, nyamuk yang dapat menularkan demam berdarah dengue (DBD), telurnya mempunyai kemampuan luar biasa untuk bertahan menghadapi kondisi kering.
Namun, perlu dicatat, ramainya keluhan di media sosial belum menjadi bukti ilmiah populasi nyamuk di Indonesia secara nasional sedang melonjak. Ada sejumlah faktor yang dapat membuat nyamuk tetap bertahan atau terasa lebih mengganggu selama kemarau.
Telur Aedes aegypti Tahan Kering
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan Aedes aegypti berkembang biak pada wadah berisi air yang banyak ditemukan di sekitar tempat tinggal manusia. Perlu diperhatikan, telur nyamuk Aedes aegypti tidak langsung mati ketika air mengering.
"Telur dapat bertahan dalam kondisi sangat kering dan hidup selama berbulan-bulan," demikian penjelasan WHO mengenai Aedes aegypti.
Telur kemudian dapat menetas ketika kembali bersentuhan dengan air. Walhasil, musim kemarau tidak otomatis memutus siklus hidup nyamuk.
Kemampuan tersebut juga dibuktikan lewat penelitian. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Vector Ecology menguji telur Aedes aegypti dalam tiga kondisi kekeringan hingga 367 hari.
Hasilnya mencengangkan. Tingkat kelangsungan hidup telur masih berada di atas 88% pada semua kondisi hingga 56 hari. Bahkan, setelah satu tahun, sekitar 2-15% telur yang diuji masih hidup.
Penelitian lain yang terbit di PLOS Biology pada 2023 mengungkap mekanisme di balik kemampuan tersebut. Saat menghadapi kekeringan, embrio Aedes aegypti mengalami perubahan metabolisme, termasuk dalam pemanfaatan lipid, yang membantu telur bertahan ketika kehilangan air. Artinya, telur yang menempel di dinding ember, pot, bak atau wadah lain dapat tetap menunggu hingga kondisi kembali memungkinkan untuk menetas.
Kemarau Untungkan Aedes aegypti
Ada temuan lain yang menarik. Studi mengenai Aedes aegypti dan Aedes albopictus menemukan kondisi hangat dan kering dapat memberikan keuntungan ekologis bagi Aedes aegypti dibandingkan spesies pesaingnya.
Penelitian tersebut menemukan keberadaan Aedes aegypti pada wadah justru meningkat seiring meningkatnya temperatur rata-rata dan panjangnya musim kering. Sebaliknya, keberadaan Aedes albopictus cenderung berkurang ketika temperatur dan jumlah bulan kering meningkat.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan sebagai preprint pada Januari 2026 juga menunjukkan kemampuan telur Aedes aegypti menghadapi kekeringan berbeda antar-populasi.
Menariknya, nyamuk dari lingkungan perkotaan yang memiliki preferensi tinggi terhadap manusia menunjukkan tingkat kelangsungan hidup telur lebih tinggi dalam kondisi kering berkepanjangan. Peneliti menyebut temperatur musim kering menjadi salah satu faktor yang dapat memprediksi toleransi telur terhadap kekeringan. Karena masih berstatus preprint, temuan ini belum melalui proses peer review jurnal.
(dpw/dpw)