Setelah sempat vakum selama empat tahun, ajang Medewi Board Riders (MBR) Challenge kembali digelar di Pantai Medewi, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Bali. Sebanyak 192 peselancar (surfer) dari berbagai daerah di Indonesia antusias meramaikan kompetisi surfing tersebut.
"Sempat vakum selama empat tahun karena kekurangan anggaran. Semoga tahun depan ada anggaran dari pemerintah, karena kita masuk dalam list HUT Kota Negara. Harapannya agar event ini selalu ada setiap tahun," ujar Ketua Panitia MBR Challenge, Heri Hervian, di Pantai Medewi, Minggu (9/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pantauan detikBali pada hari terakhir gelaran, sejumlah wisatawan domestik maupun mancanegara tampak memadati Pantai Medewi, Minggu. Tak hanya peselancar dewasa, kompetisi surfing regional ini juga diikuti peselancar anak-anak.
Heri menuturkan ratusan peserta tersebut berasal dari Bali, Nias, Sumbawa, Medan, hingga Pulau Jawa. Kompetisi tersebut terbagi dalam enam kategori, yakni grommet untuk usia 14 tahun ke bawah, junior usia 18 tahun ke bawah, open division usia 35 tahun ke bawah, master division usia 40 tahun ke atas, women division, dan longboard.
Ajang MBR Challenge 2026 berlangsung selama dua hari. Adapun, babak penyisihan telah dimulai sejak Sabtu (8/8). Heri mengeklaim kompetisi selancar ini juga berdampak positif bagi perekonomian masyarakat di kawasan Pantai Medewi.
Menurut Heri, Pantai Medewi memiliki daya tarik tersendiri bagi para peselancar mancanegara. Karakteristik ombak di lokasi ini tergolong unik karena menawarkan lintasan yang panjang.
"Pantai Medewi ini ombaknya dijuluki ombak terpanjang di Bali, sekitar 100 meter lebih. Kecepatan ombaknya medium, jadi mudah diambil dan bagus untuk manuver," jelas Heri.
Meski begitu, para peselancar tetap perlu memperhatikan kondisi pantai yang berbatu, terutama saat air laut surut. Dalam kompetisi ini, juri menilai kelincahan peserta di atas papan selancar, ketahanan durasi di atas ombak, serta daya dorong (power).
Salah seorang peserta MBR tahun ini adalah Dhea Natasya. Perempuan berusia 25 tahun yang menetap di Bali ini telah berpengalaman menjajal ombak di berbagai negara seperti Ekuador, Australia, hingga Jepang. Dhea pun memuji kualitas ombak Pantai Medewi.
"Saya dari umur 9 tahun sudah mulai surfing. Di Medewi ombaknya bagus sekali, saya suka ikut kontes di sini karena ombaknya panjang. Cuma kendalanya kadang kondisi angin saja," ujar Dhea.
Dhea sendiri sudah kali keempat berpartisipasi dalam kompetisi surfing di Pantai Medewi. Ia berharap ajang ini terus bergulir di masa mendatang.
(iws/iws)