Kasus penyakit jantung di Bali terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan kasus tersebut turut mendorong kebutuhan terhadap teknologi medis yang lebih canggih untuk mendukung diagnosis dan penanganan pasien jantung.
Hospital Director Siloam Hospitals Bali, Ni Gusti Ayu Putri Mayuni, mengungkapkan peningkatan kasus dapat terlihat dari jumlah tindakan kateterisasi atau catheterization laboratory (Cath Lab) yang dilakukan. Sejak Cath Lab di Siloam Hospital pertama dibuka pada 2012 hingga saat ini, jumlah tindakan mengalami peningkatan sekitar 10-20 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita bandingkan dari tahun 2012 waktu kita buka Cath Lab pertama sampai sekarang itu peningkatannya sekitar 10 sampai 20%. Nah, rata-rata kita meng-handle Cath Lab atau tindakan Cath Lab saat ini itu 150 sampai 200 per bulan. Per bulan, jadi kalau disetahunkan ya kurang lebih 2.400," ujarnya saat ditemui dalam acara Cardiac Symposium: From Imaging to Intervention di Hotel Prama Sanur Beach, Denpasar, Sabtu (8/8/2026).
Ia menjelaskan, sebagai wilayah kepulauan, akses penanganan medis jantung yang lengkap di Indonesia bagian timur masih menjadi tantangan. Kehadiran teknologi terintegrasi di Bali diharapkan dapat menjadi rujukan utama sehingga pasien dari wilayah timur tidak perlu lagi dirujuk ke wilayah barat seperti Jakarta atau Surabaya.
Sementara itu, Pakar Kardiovaskular Intervensi Siloam Hospitals Bali, I Made Junior Rina Artha, menjelaskan peningkatan kasus penyakit jantung tidak terlepas dari faktor gaya hidup, seperti pola makan tidak sehat, kolesterol tinggi, gula darah tinggi, hipertensi, hingga kebiasaan merokok.
Meski upaya pencegahan terus dilakukan, penanganan terhadap pasien yang telah mengalami penyakit jantung tetap diperlukan. Karena itu, teknologi medis perlu dikembangkan untuk mendukung diagnosis dan penanganan pasien.
"Kita tahu kebanyakan karena gaya hidup yang tidak sehat, pola makan yang nggak sehat, kolesterol tinggi, gula tinggi, hipertensi, merokok. Tapi kita sekarang ini lebih mengenalkan jika sudah terjadi atau bagaimana mengenal secara dini jangan sampai terjadi serangan jantung atau gagal jantung," kata Junior.
Untuk mendukung penanganan pasien, teknologi seperti CT Cardiac, Cardiac MRI, dan Transesophageal Echocardiography (TEE) yang terintegrasi dengan penanganan kardiovaskular berbasis bukti (evidence-based medicine) digunakan oleh Siloam Hospital untuk memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi jantung pasien sehingga membantu menentukan pilihan terapi yang tepat.
Junior mengatakan teknologi yang tersedia saat ini semakin berkembang dibandingkan ketika layanan Cath Lab pertama kali dibuka pada 2012.
"Dari physiology study untuk melihat aliran pembuluh darah koroner, kemudian alat CT yang lebih canggih, kemudian MRI cardiac kita punya, kemudian kita punya intravascular imaging kita punya. Belum lagi kita ngomongin cardiac arrhythmia. Ini mungkin akan menjadi perubahan yang sangat eksponensial dalam hal pelayanan kita," jelas Junior.
Putri menambahkan, penggunaan teknologi tersebut diharapkan tidak hanya mempercepat pemulihan pasien, tetapi juga mengurangi risiko komplikasi, memperpendek lama perawatan di rumah sakit, serta meningkatkan kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.
"Mungkin bukan hanya pemulihan lebih cepat ya, kalau pemulihan lebih cepat itu kan jangka pendek. Ini jangka panjang. Jadi quality of life pasien yang kita juga kejar. Habis itu dia tetap bisa ber- beraktivitas dengan lebih baik gitu," tutur Putri.