Kekhawatiran akan penyebaran rabies membuat warga Desa Batuagung, Kabupaten Jembrana, Bali, berbondong-bondong membawa hewan peliharaan mereka untuk divaksin dan disteril. Program ini digelar setelah muncul kasus positif rabies di wilayah tersebut pada Mei 2026.
Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Distan Pangan) Jembrana menggelar sterilisasi dan vaksinasi massal di Balai Banjar Batuagung, Jumat (5/6/2026). Sejak pagi, puluhan anjing dan kucing memenuhi lokasi kegiatan yang dipadati warga.
Sebanyak 110 ekor Hewan Penular Rabies (HPR) disasar dalam kegiatan ini. Rinciannya, 60 ekor hewan peliharaan yang mayoritas kucing menjalani sterilisasi, sementara 50 ekor anjing dan kucing lainnya mendapatkan vaksin rabies.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warga Desa Batuagung, Ida Bagus Kade Diarma (33), mengaku khawatir setelah kasus rabies terdeteksi di wilayahnya. Kekhawatiran itu makin meningkat setelah beredar kabar adanya warga di Kecamatan Melaya yang diduga meninggal akibat gigitan kucing liar.
"Takut saja karena saya suka memelihara anjing. Kalau pelihara anjing betina itu biasanya saat musim kawin banyak anjing jantan yang datang ke rumah. Jadi kita steril saja, selain menekan populasi juga (mencegah rabies)," ungkap Diarma saat ditemui detikBali di lokasi, Jumat (5/6/2026).
Kasus rabies di Batuagung bermula dari gigitan anjing terhadap lima warga pada 12 Mei 2026. Hasil uji laboratorium pada 15 Mei 2026 memastikan anjing tersebut positif rabies.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan dan Kesmavet) Distan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, mengatakan Desa Batuagung kini menjadi prioritas penanganan.
"Temuan kasus rabies di Banjar Masean menjadi perhatian serius kami. Dengan jumlah populasi anjing yang cukup banyak di sana, sebagai langkah mengendalikan populasi sekaligus menekan risiko penularan dilakukan sterilisasi dan vaksinasi," kata Sugiarta.
Hingga Juni 2026, tercatat 33 kasus rabies pada hewan di Jembrana. Meski demikian, angka tersebut disebut menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sugiarta juga menegaskan rabies tidak hanya menyerang anjing, tetapi juga kucing dan hewan berdarah panas lainnya. Karena itu, vaksinasi kini turut menyasar kucing.
"Adanya indikasi kasus yang melibatkan kucing membuat vaksinasi terhadap kucing juga menjadi prioritas kami saat ini selain anjing," imbuhnya.
Sepanjang 2026, juga tercatat satu kasus suspek rabies pada manusia di Banjar Kembangsari, Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya.
Distan Pangan Jembrana mengimbau masyarakat agar rutin memvaksin hewan peliharaan dan tidak melepasliarkan hewan.
"Vaksinasi itu kewajiban pemilik. Hewan harus dipelihara dengan baik, jangan dilepasliarkan karena bisa meningkatkan potensi penularan rabies di lingkungan sekitar," tegas Sugiarta.
Program penanganan rabies akan dilanjutkan bertahap ke kecamatan lain di Jembrana. Saat ini, stok vaksin disebut masih aman untuk meng-cover populasi anjing sekitar 40.400 ekor.
"Untuk ketersediaan vaksin hingga saat ini masih mencukupi dan tidak ada kendala. Dukungan pasokan dari Pemerintah Provinsi Bali tetap berjalan lancar untuk menunjang program ini," pungkas Sugiarta.
(dpw/dpw)










































