Hari Raya Waisak tahun ini jatuh pada Minggu, 31 Mei 2026. Hari Raya Waisak merupakan perayaan suci umat Buddha untuk mengenang tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, dan Parinibbana atau kematian sempurna.
Perayaan ini tidak hanya identik dengan lampion yang menghiasi langit malam. Di balik kemeriahan tersebut, setiap elemen dalam perayaan Waisak menyimpan filosofi yang mendalam. Berbagai simbol yang hadir dimaknai sebagai wujud nyata pengamalan ajaran Dharma dalam kehidupan umat Buddha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami berbagai simbol perayaan Waisak beserta maknanya, sebagaimana dirangkum detikBali dari berbagai sumber berikut ini. Yuk, simak penjelasannya!
Simbol-simbol Perayaan Waisak
1. Pohon Bodhi
Pohon Bodhi atau Ficus Religosa Foto: Bagus Kurniawan/detikcom |
Pohon Bodhi merupakan simbol suci dalam ajaran Buddha yang berkaitan dengan peristiwa tercapainya pencerahan sempurna oleh Siddhartha Gautama. Dalam ajaran Buddha, Siddhartha bermeditasi di bawah Pohon Bodhi di Bodh Gaya, India, hingga akhirnya mencapai kebijaksanaan tertinggi dan menjadi Buddha.
Dalam perayaan Waisak, Pohon Bodhi dimaknai sebagai simbol pencerahan, kebijaksanaan, dan ketenangan batin. Pohon ini juga melambangkan keteguhan hati serta perjalanan spiritual manusia dalam mencari kebenaran hidup.
2. Lampion
This picture taken on May 21, 2016 shows lanterns floating over the Borobudur temple in Magelang, Central Java during Vesak Day celebrations. Indonesian Buddhists celebrated Vesak at the Borobudur temple as they marked the birth, enlightment, and death of Gautama Buddha. / AFP PHOTO / SURYO WIBOWO Foto: AFP |
Lampion menjadi salah satu simbol yang paling melekat dalam perayaan Waisak, terutama ketika ratusan cahaya lampion menerangi langit malam dengan pemandangan yang menenangkan. Bagi umat Buddha, lampion tidak hanya sekadar hiasan, tetapi juga memiliki makna mendalam sebagai simbol harapan, penerangan batin, dan perjalanan menuju kebijaksanaan.
Melalui tradisi pelepasan lampion, umat Buddha diajak untuk melepaskan berbagai sifat buruk dalam diri, seperti kebencian, keserakahan, dan kebodohan. Oleh karena itu, momen ini sering dimaknai sebagai bentuk doa dan harapan agar kehidupan menjadi lebih damai, tenang, serta dipenuhi kebaikan.
3. Bunga Teratai
Bunga Teratai, Lotus. Foto: Jay Castor/Unsplash |
Selain lampion, bunga teratai juga menjadi salah satu simbol Waisak yang paling ikonik. Dalam ajaran Buddha, bunga teratai memiliki makna yang sangat mendalam karena kerap dikaitkan dengan kelahiran Siddhartha Gautama yang dipercaya membawa kedamaian dan kebijaksanaan bagi dunia.
Selain itu, teratai juga digambarkan sebagai bunga yang tumbuh dari lumpur dan air yang keruh, tetapi tetap mampu mekar dengan indah di permukaan. Filosofi inilah yang membuat teratai dimaknai sebagai simbol kesucian hati, keteguhan, dan perjalanan manusia dalam mencapai kehidupan yang lebih baik meski harus melewati berbagai cobaan dan tantangan duniawi.
4. Air Suci
Pengambilan air suci sebagai prosesi Waisak di Umbul Jumprit, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (3/6/2023). Foto: Eko Susanto/detikJateng |
Simbol lain yang tidak kalah penting, karena selalu menjadi bagian dari ritual keagamaan umat Buddha adalah air suci. Air suci dimaknai sebagai simbol kehidupan yang mampu membersihkan hati dan pikiran manusia untuk menjauhi sifat-sifat buruk, seperti kebencian dan keserakahan.
Maka dari itu, penggunaan air suci dalam perayaan Waisak menjadi pengingat bagi umat Buddha untuk senantiasa menjaga kedamaian hati serta pengendalian diri dalam menjalani kehidupan sesuai ajaran Dharma dan penuh dengan kebajikan.
5. Dupa
Warga keturunan Tionghoa meletakan dupa saat sembahyang malam pergantian Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Vihara Ananda Avalokitesvara Rangkasbitung, Lebak, Banten, Senin (16/2/2026). Tradisi sembahyang pada malam pergantian tahun tersebut dilakukan oleh warga Tionghoa untuk memohon kehidupan yang lebih baik, kesehatan, dan rezeki yang melimpah di tahun Shio Kuda Api. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/wsj. Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas |
Sama seperti air suci, dupa juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari berbagai rangkaian ibadah umat Buddha. Aroma harum yang dihasilkan dupa tidak hanya menciptakan suasana tenang dan khidmat selama ritual berlangsung, tetapi juga menyimpan makna spiritual yang mendalam.
Dalam ajaran Buddha, dupa dimaknai sebagai simbol penghormatan kepada Buddha sekaligus pengingat agar manusia senantiasa menebarkan kebaikan, kasih sayang, dan sikap bijaksana kepada sesama.
Itulah beberapa simbol dalam perayaan Waisak yang perlu kita ketahui. Semoga bermanfaat ya, detikers!
(nor/nor)















































