Idul Adha identik dengan kurban dan keikhlasan. Umat muslim akan dengan senang hati memberikan hewan-hewan terbaik untuk disembelih dan dibagikan kepada sesama. Namun, tahukah detikers, kurban telah dilakukan jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima perintah seperti dalam QS Al-Kautsar: 2?
Asal muasal kurban dapat dilihat melalui kisah Habil dan Qabil serta kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Orang-orang terdahulu ini sama-sama mendapat perintah berkurban dan makna dibaliknya yang begitu dalam. Seperti apa sejarah perintah berkurban? Simak kisah selengkapnya!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah Dua Saudara: Habil dan Qabil
Nabi Adam dan Siti Hawa dikarunia beberapa keturunan selama hidup. Setiap kali melahirkan, selalu ada dua anak yang lahir dan disebut sebagai saudara satu kandungan. Qabil lahir bersama dengan Iqlima dan Habil lahir bersama dengan Labuda. Hanya satu kali Siti Hawa melahirkan anak tunggal, yakni Syits yang kelak akan menjadi Nabi.
Guna melanjutkan garis keturunan dan tidak ada keluarga lain di bumi, Nabi Adam diberikan perintah oleh Allah Swt untuk menikahkan putra & putrinya. Syaratnya, pernikahan tersebut tidak dilakukan oleh saudara satu kandungan. Qabil akan dinikahkan dengan Labuda dan Habil dipasangkan dengan Iklima. Hanya saja, Qabil tidak menerima ketetapan tersebut.
Baginya, Labuda tidak semenarik Iklima saudari satu kandungannya. Menengahi protes yang diajukan putranya, Nabi Adam kemudian meminta keduanya untuk mempersembahkan kurban dari hasil kerjanya masing-masing. Qabil bekerja sebagai petani dan mempersembahkan buah-buahan dari kebunnya. Sayangnya, Qabil malah memilih buah-buah yang jelek dan busuk. Sedangkan Habil yang beternak hewan memilih satu dari sekian domba miliknya. Tidak tanggung, domba yang dipilih adalah yang terbaik dan paling Habil sayangi.
Keduanya mempersembahkan kurban di puncak bukit. Nabi Adam memberi tahu bahwa api petir yang menyambar adalah tanda bahwa kurban itu yang akan diterima. Dari kejauhan terlihat petir besar menyambar kurban milik Habil. Jelas bahwa kurban yang diberikan Habil adalah yang dipilih oleh Allah Swt.
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Ketika Ismail masih berusia belia, ayahnya mendapatkan mimpi yang sangat tidak biasa. Nabi Ibrahim dalam mimpi itu melihat dirinya mengurbankan Ismail yang masih kecil. Mimpi aneh tersebut terjadi beberapa kali hingga membuat Nabi Ibrahim menjadi gundah gulana. Ia bermunajat kepada Allah Swt tentang keresahan hatinya. Bagaimana mungkin seorang ayah tega mengorbankan putra terkasihnya?
Tentang mimpi tersebut akhirnya diceritakan kepada sang anak, Ismail. Di luar dugaan, Ismail kecil justru menjawab dengan penuh keyakinan bahwa apa yang diperintahkan Allah Swt kepada ayahnya adalah suatu kewajiban yang tidak dapat ditawar.
Dengan meneguhkan hati, berangkatlah mereka ke suatu tempat untuk melakukan perintah tersebut. Selama perjalanan, mereka bertemu setan yang menyamar menjadi sosok manusia dan berusaha untuk menggoyahkan iman keduanya. Namun, mereka menolaknya dan melempari setan tersebut. Kelak, peristiwa itu akan menjadi bagian dari ibadah haji yang bernama "Lempar Jumrah".
Tiba di tempat yang dituju, Nabi Ibrahim membaringkan Ismail di atas sebuah batu. Masih dengan perasaan gundah, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah. Keajaiban pun terjadi, Ismail kecil ternyata diganti dengan sebuah domba gemuk yang sehat. Menurut Syekh Jalaluddin Al-Mahalli dalam kitab Tafsir Al-Qur'an Al-Karim, domba tersebut adalah milik Habil yang digembalakan di Surga dan menjadi sembelihan agung bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Makna Keikhlasan dan Pengorbanan dalam Kurban
Dari kisah para pendahulu, kita dapat belajar banyak tentang arti melepas sesuatu. Habil belum tahu bahwa kurbannya akan diterima, tetapi ia yakin dan memilih hewan kesayangannya untuk dipersembahkan. Nabi Ibrahim dan Ismail tidak tahu bahwa pisau yang bahkan sudah menempel di Ismail tidaklah menyakiti Ismail. Sebaliknya, Allah ganti dengan domba yang gemuk untuk kurban.
Keikhlasan akan sebuah pengorbanan memang bukan sesuatu yang tampak, tdak dapat dikalkulasikan ataupun divisualisasi. Keikhlasan tampak dalam rasa yakin atas pengorbanan hal yang kita sayangi seperti kisah di atas.
Kurban juga mengajarkan untuk berbagi kasih kepada sesama terutama mereka yang membutuhkan. Banyak yang tidak terlampau beruntung untuk merasakan makan daging terkecuali di momen Idul Adha. Oleh karenanya, kurban menjadi ibadah yang memiliki sisi sosial yang begitu kuat.
Demikian kisah tentang sejarah kurban. Semoga bermanfaat!
(iws/iws)










































