Sejumlah lembaga dan komunitas di Tabanan berkolaborasi menggelar aksi dropping point atau pengumpulan sampah anorganik di wilayah Kota Tabanan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Patradesa, Komunitas Tabanan Lovers, dan TPS3R Sadu Kencana sebagai upaya membantu masyarakat mengelola sampah berbasis sumber.
Perwakilan Patradesa, Agus Sumberdana, mengatakan kegiatan perdana digelar di Jalan Dharmawangsa, tepat di sebelah timur Kantor Bupati Tabanan, Jumat (15/5/2026). Meski sosialisasi baru dilakukan sehari sebelumnya, respons masyarakat disebut cukup tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya ini ide spontan dan baru disosialisasikan H-1. Tapi hari ini antusias warga sangat positif. Kurang lebih ada belasan warga yang membawa sampah mereka ke sini," ujar Agus Sumberdana.
Kegiatan serupa akan dilanjutkan pada Sabtu (16/5) di Jalan Parkit atau pintu selatan Gedung Kesenian I Ketut Marya. Selanjutnya, Minggu (17/5), dropping point digelar di kawasan Lapangan Alit Saputra atau Lapangan Dangin Carik.
"Kegiatan dimulai pukul 08.00 hingga 10.00 Wita dan sementara di wilayah kota saja," jelasnya.
Agus menyebut pihaknya berencana memperluas program tersebut ke sejumlah wilayah lain melalui konsep road show. Namun, pelaksanaannya masih menunggu hasil evaluasi kegiatan awal.
Selama dua jam pelaksanaan di hari pertama, panitia berhasil mengumpulkan 36,15 kilogram (kg) sampah anorganik, 13,75 kg residu, 3,75 kg sampah organik, serta 0,75 kg sampah B3 atau medis. Seluruh sampah yang terkumpul kemudian dibawa ke TPS3R Sadu Kencana di Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan.
Agus Sumberdana menekankan bahwa sampah yang dibawa dalam kegiatan itu hanya anorganik. Aksi ini dilakukan sebagai salah satu solusi atas Surat Edaran Bupati Tabanan mengenai pengelolaan sampah berbasis sumber dimana masyarakat masih kebingungan mau dibawa kemana sampah pilahan mereka.
"Setelah aturan itu diberlakukan, terjadi permasalahan baru yakni masyarakat bingung mau dikemanakan sampah-sampah mereka. Paling tidak aksi ini bisa membantu memberikan solusi," tegasnya.
Baca juga: Banjir Sampah Kini Melanda Tabanan |
Selain menerima dan menimbang sampah, panitia juga memberikan edukasi kepada warga terkait pemilahan sampah. Agus mengakui masih banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan antara sampah anorganik dan residu.
"Masih ada sampah yang bercampur. Ada juga warga yang belum paham mana residu dan anorganik. Saat mereka setor sekalian kami berikan edukasi, sosialisasi dan ajak memilah sampah mereka sendiri," ujarnya.
Ia berharap konsep dropping point semacam ini dapat diadopsi pemerintah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), agar kebijakan pengelolaan sampah turut dibarengi solusi di lapangan.
"Dropping point atau titik kumpul ini semoga bisa ditiru oleh pemerintah. Karena pemerintah yang mengeluarkan kebijakan namun harus dibarengi dengan solusi," pungkasnya.
Salah seorang warga, Khusnul Arif, mengaku mengetahui kegiatan tersebut dari grup WhatsApp Posyandu. Warga Banjar Taman Sari itu menilai program tersebut sangat membantu masyarakat memahami pemilahan sampah.
"Tanggapan program ini sangat baik dan memang banyak masyarakat belum paham tentang pemilahan yang benar dan mau dibawa kemana sampah anorganik. Harapan saya agar berkelanjutan kalau bisa," ujarnya.
(nor/nor)










































