Petugas gabungan dari Dinas Perhubungan Gianyar dan Polsek Ubud menertibkan sejumlah kendaraan yang parkir di ruas Jalan Hanoman dan Jalan Monkey Forest, Ubud, Gianyar, Bali. Puluhan motor dan mobil terjaring razia parkir liar di badan jalan kawasan pariwisata itu.
"Razia menyasar kendaraan roda dua dan roda empat yang parkir menggunakan badan jalan di sepanjang Jalan Monkey Forest dan Jalan Hanoman, Lingkungan Padangtegal, Ubud," kata Kapolsek Ubud Kompol I Wayan Putra Antara dalam keterangannya, Kamis (7/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petugas menilang belasan kendaraan yang parkir sembarangan di jalanan Ubud itu. Selain itu petugas juga menempelkan stiker tanda melanggar aturan terhadap 20 kendaraan lainnya.
"Petugas memberikan teguran dan imbauan kepada pengendara yang memarkir kendaraan di badan jalan," kata Antara.
Antara menegaskan penertiban parkir liar dilakukan untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas di kawasan Ubud. Menurutnya, kemacetan dipicu oleh kendaraan yang parkir sembarangan.
Kucing-kucingan
Penertiban parkir liar di jalanan Ubud itu sudah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir. Meski begitu, tetap saja masih ada warga yang memarkir kendaraannya di pinggir jalan.
Wayan Repot, salah seorang pemilik toko pakaian di Jalan Monkey Forest Ubud, menyebut pengemudi taksi online dan ojek online paling sering parkir sembarangan di pinggir jalan. Menurut Repot, mereka kerap kucing-kucingan dengan petugas saat ada razia.
"Paling bandel itu taksi online. Kalau tidak ada petugas mereka parkir di pinggir jalan. Kalau petugas razia, mereka langsung tancap gas," kata Repot.
Repot menuturkan sejumlah sopir taksi online bahkan makan dan tidur di dalam mobil hingga seharian saat memarkir kendaraannya di pinggir jalan. Padahal, ada empat titik parkir umum yang tersedia di sekitar Jalan Monkey Forest.
"Parkirnya bayar Rp 5.000. Mungkin mereka malas bayar parkir," kata Repot.
Repot mengatakan kebiasaan para ojol dan sopir taksi online yang parkir sembarangan di pinggir jalan sempat dikeluhkan pemilik toko di kawasan itu. Mereka terganggu karena kendaraan yang parkir sembarangan itu menghalangi pandangan para wisatawan yang melintas di depan toko mereka.
"Para pemilik toko ini pernah komplain. Kebiasaan mereka (ngetem) di pinggir jalan menghalangi akses masuk pengunjung ke toko mereka," keluh Repot.
(iws/iws)










































