Proses nekropsi terhadap bangkai paus sperma yang terdampar di pesisir Pantai Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, terus dikebut. Di tengah proses pembedahan untuk mencari penyebab kematian, petugas menemukan adanya upaya perusakan dan percobaan pengambilan gigi mamalia laut tersebut oleh orang tak dikenal.
Pantauan detikBali di lokasi, kerumunan warga masih memadati area pantai karena penasaran ingin melihat bangkai raksasa tersebut dari dekat. Petugas bahkan harus berulang kali memberikan peringatan tegas karena warga nekat menerobos garis pembatas dan terpal penutup saat proses nekropsi berlangsung.
Hingga pukul 18.00 Wita, proses nekropsi dan persiapan penguburan belum rampung. Petugas di lapangan juga harus berjibaku dengan kendala cuaca berupa hujan deras yang mengguyur lokasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya paus tersebut ditemukan terdampar pada Selasa (5/5). Saksi mata sempat melihat paus itu masih hidup sekitar pukul 14.00 Wita di jarak 100 meter dari bibir pantai. Namun, seiring air laut yang surut drastis, paus tersebut akhirnya dinyatakan mati pada pukul 16.00 Wita karena kondisinya sepenuhnya kandas di daratan.
Relawan dari Jaringan Satwa Indonesia (JSI), drh. Abdullatif Muhammad, menjelaskan proses nekropsi baru bisa dilakukan siang tadi lantaran terkendala pasang surut air laut sejak kemarin.
"Yang dinekropsi itu paus sperma jenis kelamin betina dengan panjang 17 meter. Karena kemarin terkendala air pasang, baru siang tadi bisa dilakukan dan sampai sore ini belum selesai," ungkap Abdullatif saat ditemui detikBali di lokasi, Rabu (6/5/2026).
Abdullatif membeberkan beberapa dugaan awal penyebab kematian paus tersebut. Sebagai mamalia laut, paus membutuhkan air untuk menopang organ tubuhnya. Saat terdampar di perairan dangkal, dapat terjadi crush syndrome, yakni organ dalam paus tertarik gravitasi karena tidak ada lagi daya apung dari air.
"Dugaan kedua, paus bernapas dengan blow hole (lubang hidung) di bagian atas. Saat terdampar dan badan terombang-ambing, lubang pernapasan itu bisa kemasukan air, sehingga paus tersebut mengalami kondisi seperti tenggelam," papar Abdullatif.
Untuk memastikan penyebab pastinya, tim medis telah mengambil lebih dari 20 sampel, mulai dari organ dalam hingga kulit, untuk diuji di laboratorium, termasuk tes DNA.
Ada Bekas Upaya Pengambilan Gigi
Proses nekrospi paus sperma yang terdampar di pesisir Pantai Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, Jembrana, Bali, Rabu (6/5/2026). Foto: I Putu Adi Budiastrawan/detikBali |
Disinggung mengenai hilangnya gigi paus, Abdullatif belum bisa memastikan jumlah pastinya karena posisi bangkai sempat berubah-ubah dihantam ombak. Namun, ia mengonfirmasi adanya bekas perusakan pada bagian mulut paus.
"Kalau pengamatan kita masih utuh, tapi tidak bisa dipastikan sepenuhnya. Yang jelas, kami menemukan ada upaya-upaya mengambil gigi. Ada retakan dan bekas upaya pengambilan paksa," tegasnya.
Sementara itu, Kasat Polairud Polres Jembrana AKP I Putu Suparta menyatakan pihaknya terus memantau proses evakuasi. Untuk mencegah pencurian daging maupun bagian tubuh paus lainnya, personel kepolisian dikerahkan untuk berjaga di lokasi, bahkan hingga bermalam.
"Kemarin anggota bermalam di lokasi untuk pengamanan. Saat ini kita masih menunggu proses nekropsi selesai, selanjutnya akan dilakukan penguburan dengan jarak sekitar 100 meter dari bibir pantai," ujar Suparta.
(dpw/dpw)











































