detikBali
Internasional

Dituding Lancarkan Serangan ke UEA, Iran Membantah hingga Singgung AS

Terpopuler Koleksi Pilihan
Internasional

Dituding Lancarkan Serangan ke UEA, Iran Membantah hingga Singgung AS


Tim detikNews - detikBali

FILE PHOTO: An Iranian flag flutters in front of the International Atomic Energy Agency (IAEA) headquarters in Vienna, Austria, January 15, 2016.   REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo
Ilustrasi bendera Iran. (Foto: Dok. REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo)
Daftar Isi
Denpasar -

Uni Emirat Arab (UEA) menuding Iran melancarkan rangkaian serangan ke wilayahnya. Namun, Teheran membantah tudingan tersebut dan menegaskan tidak memiliki agenda untuk menyerang UEA. Iran justru menyinggung Amerika Serikat (AS) yang membuka jalur pelayaran Selat Hormuz secara ilegal.

Dilansir dari detikNews, Kementerian Pertahanan UEA menyatakan sedikitnya 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, dan empat drone di luncurkan Iran ke wilayah mereka. UEA menyebut rentetan serangan telah dicegat sepanjang Senin (4/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan itu disebut melukai tiga orang. UEA menyebut serangan udara tersebut sebagai eskalasi serius yang menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan negara.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem al-Budaiwi, mengutuk keras serangan Iran terhadap UEA tersebut. Dia menilai aksi tersebut sebagai tindakan agresi dan eskalasi secara terang-terangan.

ADVERTISEMENT

Kecaman Negara-negara Arab

Sementara itu, TRT World melaporkan Arab Saudi, Qatar, Mesir, dan Yordania menyampaikan kecaman terhadap Teheran. Salah satu serangan drone dilaporkan memicu kebakaran di kompleks Zona Industri Minyak Fujairah yang merupakan pusat energi utama di pantai timur UEA.

Saudi mengutuk keras serangan Iran tersebut dan menegaskan solidaritas dengan UEA dalam upaya melindungi kedaulatan dan keamanannya. Mereka juga menyerukan Iran agar menghentikan serangan-serangannya.

"Kementerian Luar Negeri menyampaikan kecaman dan penolakan keras Kerajaan Arab Saudi terhadap Iran yang menargetkan -- melibatkan rudal dan drone -- fasilitas sipil dan ekonomi di Uni Emirat Arab yang bersaudara, serta sebuah kapal milik perusahaan Emirat," tegas Kementerian Luar Negeri Saudi.

Kecaman lainnya datang dari Qatar yang menggambarkan serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan. Selain itu, Qatar menyebut serangan itu menjadi ancaman serius terhadap keamanan dan stabilitas kawasan.

Kemudian, Mesir juga turut mengutuk Iran. Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan solidaritas dan dukungan penuh terhadap langkah-langkah UEA selanjutnya.

Putra Mahkota Arab Saudi Kutuk Serangan Iran

Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) berbicara via telepon dengan Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Mohamed bin Zayed (MBZ). MBS dalam percakapan telepon dengan MBZ itu menyatakan penolakan keras Kerajaan terhadap agresi Iran yang menargetkan UEA.

MBS juga menegaskan dukungan Saudi untuk keamanan dan stabilitas UEA. Kedua pemimpin juga meninjau perkembangan regional dan cara-cara untuk meningkatkan keamanan serta stabilitas kawasan.

Kecaman MBS itu disampaikan setelah Kementerian Pertahanan UEA melaporkan pertahanan udaranya telah mencegat sedikitnya 15 rudal dan empat drone yang diluncurkan dari wilayah Iran, dalam empat gelombang serangan, pada Senin (4/5) waktu setempat.

Iran Bantah Serang UEA

Sementara itu, otoritas Iran membantah tuduhan melakukan serangan ke UEA. Kepada AFP, seorang pejabat militer Iran yang tidak disebutkan namanya menegaskan Teheran tidak memiliki program untuk menyerang UEA.

"Republik Islam tidak memiliki program yang direncanakan sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak yang dimaksud," tegas pejabat militer Iran tersebut saat berbicara kepada televisi pemerintah.

Dia justru mengatakan AS harus bertanggung jawab karena telah membuat jalur bagi kapal-kapal agar melewati Selat Hormuz secara ilegal.

"Para pejabat AS harus mengakhiri perilaku buruk menggunakan kekerasan dalam proses diplomatik dan menghentikan petualangan militer di wilayah minyak yang sensitif ini, yang mempengaruhi perekonomian semua negara di dunia," pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini!




(iws/iws)










Hide Ads