detikBali

Warga Denpasar Mulai Rajin Pilah Sampah, tapi Bingung Dibawa ke Mana

Terpopuler Koleksi Pilihan

Warga Denpasar Mulai Rajin Pilah Sampah, tapi Bingung Dibawa ke Mana


Fabiola Dianira - detikBali

Acara pelatihan pemilahan sampah di Re-Feel Bulkstore, Renon, Denpasar, Sabtu (25/4/2026). (Fabiola Dianira)
Foto: Acara pelatihan pemilahan sampah di Re-Feel Bulkstore, Renon, Denpasar, Sabtu (25/4/2026). (Fabiola Dianira/detikBali)
Denpasar -

Pemilahan sampah saat ini tengah digencarkan di Bali setelah pembatasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar. Edukasi menjadi salah satu kunci penting dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat. Saat ini, mulai banyak warga sadar memilah sampah. Sayang, sistem yang kurang mendukung membuat mereka bingung membawa ke mana sampah yang sudah terpilah.

Julianti, seorang edukator pemilahan sampah, mengatakan bahwa upaya edukasi sebenarnya terus dilakukan di masyarakat, meskipun memiliki keterbatasan dalam menjangkau semua lapisan masyarakat.

"Kalau untuk edukasi definitely selalu ada (tantangannya) ya. Maksudnya kadang kan kita juga nggak selalu punya kapasitas untuk mengumpulkan semua orang gitu, atau ada orang yang bisa ngasih edukasinya gitu," ujarnya dalam acara edukasi pemilihan sampah yang diadakan Re-Feel Bulkstore di Renon, Denpasar, Sabtu (25/4/2025)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, salah satu cara paling efisien untuk menyebarkan edukasi adalah melalui jalur komunitas seperti banjar dan desa.

"Terus sebenarnya yang paling efisien ya lewat ini sih, lewat banjar misalnya, lewat desa ngasih informasi. Kan sebenarnya juga sudah punya channel-nya sendiri ya, sudah WhatsApp-WhatsApp Desa, WhatsApp Banjar gitu," katanya.

ADVERTISEMENT

Julianti menilai masih banyak faktor yang memengaruhi masyarakat belum memilah sampah. Mulai dari kurangnya pengetahuan, keterbatasan fasilitas, hingga sistem pengangkutan yang belum mendukung.

"Mungkin karena secara pengetahuan dia belum punya, masih bingung belum tahu. Bisa jadi karena faktor fasilitas, mereka belum punya tempat sampah yang terpisah, atau bahkan pengangkutannya yang masih tercampur," jelasnya.

Julianti menambahkan faktor motivasi juga menjadi kendala. Kemauan masyarakat untuk memilah sampah berkurang karena anggapan bahwa proses tersebut membutuhkan waktu lebih banyak.

"Atau ya simply faktor karena motivasi aja sih kadang. Atau bilangnya kayak 'Oh kita enggak ada waktu untuk milah', padahal milah itu kan sama aja ya," imbuhnya.

Sementara itu, Ayu Winastri, pemilik Re-Feel Bulk Store, melihat isu pemilahan sampah sebagai hal yang sangat relevan di Bali saat ini. Ia pun turut berkolaborasi dengan edukator untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Ia mengaku kekhawatiran terhadap kondisi sampah di lingkungan sekitar menjadi salah satu alasan keterlibatannya. "Sebenarnya lebih ke kayak khawatir aja sih kayak di setiap jalan yang kita lalui itu banyak sampahnya, nggak diangkut gitu-gitu. Kadang saya lihat juga dicampur," katanya.

Kegiatan edukasi yang ia lakukan awalnya menyasar warga sekitar tempat usahanya. Namun, antusiasme masyarakat ternyata datang dari berbagai wilayah.

Dari kegiatan ini, ia berharap masyarakat dapat lebih memahami cara-cara pemilahan sampah dan mulai mengubah gaya hidup agar tidak menambah jumlah sampah, terutama sampah rumah tangga.

"Harapan saya sih lebih ke kayak kita semua lebih paham ya dengan memilah sampah gitu kan. Yang kedua, masyarakat gaya hidupnya itu mungkin bisa beralih dari yang beli dengan metode belanja biasa, dengan belanja diisi ulang gitu, tidak bawa sampah lagi gitu," harapnya.




(hsa/hsa)










Hide Ads