Kartini Masa Kini

Arick Istriyanti dan Perjuangan Pendidikan Inklusif di Badung

Agus Eka - detikBali
Selasa, 21 Apr 2026 07:59 WIB
Arick Istriyanti saat menjalani tugasnya sebagai tenaga ahli psikolog klinis di ULD Disdikpora Badung, memberikan pendampingan terhadap anak berkebutuhan khusus. (Foto: Dok. Pribadi)
Badung -

Ni Luh Arick Istriyanti tampaknya lekat dengan semboyan legendaris Raden Ajeng Kartini 'Habis Gelap Terbitlah Terang'. Arick memperjuangkan hak pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Badung, Bali.

Baginya, kegelapan sesungguhnya adalah saat anak-anak penyandang disabilitas terisolasi oleh stigma negatif masyarakat dan dianggap sebagai aib keluarga yang harus disembunyikan. Arick berupaya mewujudkan pendidikan inklusif hingga ke pelosok-pelosok desa di Badung utara.

"Kehadiran pendidikan inklusif di Badung menjadi proklamasi bahwa di balik keterbatasan, ada kekuatan unik melalui potensi yang mereka miliki jika kita mau menerima," ungkap Arick saat ditemui detikBali di Puspem Badung, Senin (20/4/2026).

Arick merupakan tenaga ahli psikolog klinis di Unit Layanan Disabilitas (ULD) Disdikpora Badung. Psikolog klinis lulusan Universitas Airlangga itu tertarik pada dunia pendidikan inklusif lantaran memiliki keyakinan kuat bahwa setiap anak memiliki potensi yang unik.

Masa kecilnya di Desa Sibang Kaja, Kecamatan Abiansemal, Badung, turut membentuk kepeduliannya dalam melihat perspektif pendidikan melalui kacamata keilmuan psikologi. "Setiap individu itu memiliki kelebihannya masing-masing. Tergantung bagaimana kita menerima kondisi tersebut," imbuhnya.

Sebagai tenaga ahli psikolog klinis di ULD Disdikpora Badung, Arick memimpin tim yang terdiri dari tenaga ahli psikologi pendidikan dan puluhan guru pendamping khusus. Tugas kesehariannya mencakup asesmen psikologis di lapangan hingga menyusun strategi pendampingan intensif agar siswa berkebutuhan khusus dapat belajar secara optimal di sekolah reguler.

"Kami menyediakan fasilitas layanan berupa pendampingan dari psikolog dan guru pendamping khusus melalui program bernama Sapa Inklusi agar layanan ini makin dekat ke masyarakat. Tim kami biasanya menggunakan strategi target perilaku serta memodifikasi media belajar yang menyesuaikan dengan kurikulum nasional saat ini," imbuh Juara I Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan Kemenpora 2019 tersebut.

Tantangan terberat Arick saat turun ke wilayah Badung bagian utara adalah berhadapan dengan pola pikir tradisional masyarakat yang mengaitkan kondisi disabilitas dengan hal-hal mistis masa lalu. Menurutnya, penyangkalan dari orang tua kerap mematikan kemandirian anak karena mereka kehilangan akses pendidikan serta terapi yang seharusnya didapatkan sejak dini.

Ni Luh Arick Istriyanti. (Foto: Agus Eka/detikBali)



Simak Video "Yamaha NMAX: Saksi Perjuangan 3 Generasi"


(iws/iws)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork