Pulau Bali dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan di Indonesia yang memiliki ciri khas unik. Hal ini tidak terlepas dari kehidupan masyarakatnya yang sangat dekat dengan seni serta ritual keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu yang paling populer adalah seni patung dan ukiran yang terus hidup berdampingan dengan masyarakat. Salah satunya adalah patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang telah menjadi ikon Bali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara di kawasan Gianyar juga terdapat patung yang tidak kalah menarik perhatian. Namanya adalah Patung Bayi di Jalan Raya Sakah, Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Gianyar.
Patung Bayi di pertigaan jalan ini memiliki sejarah yang panjang. Selain itu, patung ini dipercaya sebagai simbol sakral oleh masyarakat setempat.
Sejarah Patung Bayi di Gianyar
Dirangkum dari sejumlah sumber, Patung Bayi di Jalan Raya Sakah mulai digagas pada masa Bupati Gianyar, Tjokorda Raka Dherana, yang memimpin pada 1983-1993. Saat itu, pemerintah daerah merencanakan pembangunan patung bertema pahlawan dan cerita pewayangan di sejumlah persimpangan jalan.
Gagasan tersebut berkembang setelah tokoh Desa Mas, Ida Bagus Aji Mangku Ambara, mengusulkan konsep berbeda. Selanjutnya, lokasi pertigaan Jalan Raya Sakah dipilih karena dinilai strategis dan sakral karena berdekatan dengan Pura Hyang Tiba.
Inspirasi bentuk patung muncul dari pengalaman spiritual Ida Bagus Putra pada purnama sasih 1985 di Pantai Saba, yang mengaku melihat sosok Brahma Lelare. Konsep tersebut kemudian diajukan dan disetujui oleh Gubernur Bali saat itu, yaitu Ida Bagus Oka.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, proses pembangunan Patung Bayi mulai dilakukan pada 1990 oleh seniman lokal I Ketut Sugata, yang juga terlibat dalam pengerjaan Monumen Bajra Sandhi di Denpasar.
Makna Patung Bayi
Patung Bayi, yang juga dikenal sebagai Patung Brahma Lelare, dipercaya sebagai perwujudan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam sosok bayi yang melambangkan harapan, keberuntungan, serta awal dari kehidupan manusia sekaligus simbol penyatuan Siwa-Buddha.
Patung Bayi ini dimaknai sebagai peninggalan sejarah yang erat kaitannya dengan tradisi dan adat di Bali. Masyarakat setempat meyakini bisa mendapat keturunan setelah melakukan permohonan di sana.
Baca juga: Misteri Patung Ngurah Rai di Pura Dalem Basa |
Meskipun memiliki kedudukan penting dan sakral, Patung Brahma Lelare kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis. Hal ini tidak terlepas dari bentuk dan ekspresi wajahnya yang sangat realistis sehingga tampak seolah-olah hidup dan mengawasi.
Terlepas dari berbagai anggapan tersebut, Patung Brahma Lelare tetap menjadi bagian penting dalam ritual adat masyarakat Gianyar yang sarat makna sehingga keberadaannya harus terus dilestarikan dari generasi ke generasi.
(hsa/hsa)










































