Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng belum menetapkan status tanggap darurat bencana meski banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Gumi Panji Sakti. Bencana itu menyebabkan korban jiwa serta ratusan rumah warga terdampak.
Bencana tersebut dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah Buleleng pada Jumat (6/3/2026) malam. Bencana terjadi di lima kecamatan, yakni Banjar, Seririt, Gerokgak, Busungbiu, dan Kubutambahan.
Wilayah yang mengalami dampak paling parah berada di Kecamatan Banjar. Di Desa Banjar, banjir bandang sempat menyeret empat warga. Selain itu, tercatat sebanyak 253 rumah warga terdampak akibat terjangan banjir bandang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra, mengatakan pemerintah daerah (pemda) masih melakukan kajian sebelum menetapkan status tanggap darurat bencana.
"Masalah penetapan bencana, kami masih melakukan kajian yang mendalam terhadap kejadian bencana yang melanda lima kecamatan ini," kata Sutjidra.
Meski demikian, Sutjidra menegaskan penanganan di lapangan tetap dilakukan layaknya situasi tanggap darurat. Menurutnya, penanganan dilakukan melalui koordinasi berbagai pihak, mulai dari TNI-Polri, BPBD provinsi dan kabupaten hingga relawan.
"Walaupun belum ada penetapan status bencana, respons kami sudah berjalan dengan koordinasi TNI-Polri, pemerintah provinsi, BPBD provinsi, BPBD kabupaten, relawan, PMI, serta aparat desa dan kecamatan," uja Sutjidra.
Pemda, ujar Sutjidra, juga telah membentuk posko penanganan bencana guna mempercepat proses penanganan di lapangan, termasuk pencarian korban.
"Koordinasi sudah dilakukan, posko juga sudah kami bentuk. Harapannya selama proses pencarian ini tidak muncul masalah sehingga kita bisa bekerja sebaik-baiknya," jelasnya.
Selain melakukan pencarian korban, pemerintah juga mulai melakukan sejumlah langkah penanganan lanjutan. Di antaranya pembersihan lokasi terdampak, penyediaan obat-obatan, hingga upaya pemulihan bagi keluarga korban dan warga yang terdampak bencana.