Bergabung komunitas bisa menjadi kegiatan positif di tengah aktivitas utama, seperti bersekolah dan bekerja. Ikut komunitas tertentu bisa membuat jaringan makin luas.
Komunitas biasanya mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang dengan minat yang sama. Kini, di Bali sudah ada komunitas yang mempertemukan orang-orang yang berminat soal isu-isu perkotaan.
Baca juga: Melepas Penat, Meraup Cuan dari Sketsa |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut tiga komunitas yang memiliki fokus terhadap isu-isu perkotaan.
Nuturang
"Nuturang" dalam bahasa Bali berarti "bertutur" atau "menceritakan". Istilah tersebut selaras dengan tujuan Nuturang sebagai komunitas yang menceritakan Bali dari perspektif humaniora.
Nuturang berdiri sejak 2024 dan aktif dalam menyuarakan isu perkotaan. Gerakan ini terlibat dalam beberapa kegiatan walking tour di kawasan bersejarah di Bali.
Bali memiliki banyak sisi yang dibalut dalam budaya. Nuturang mencoba menceritakan itu dalam tulisan-tulisannya.
Instagram: @nuturang
Forum Diskusi Transportasi Bali
Transportasi menjadi diskursus penting dalam konteks perkotaan. Mobilitas kaum urban amat tinggi sehingga perlu perhatian besar terhadap infrastruktur pendukungnya. Isu inilah yang diperjuangkan oleh Forum Diskusi Transportasi Bali (FDT) Bali.
Komunitas yang dipimpin Dyah Rosalina ini sangat vokal dalam menyuarakan transportasi publik. Terbukti, mereka dapat mendorong diberlakukan kembali Trans Metro Dewata (TMD) yang diberhentikan operasionalnya pada awal Januari 2025.
Instagram: @transportforbali
Koalisi Pejalan Kaki Bali
Komunitas ini terbentuk setelah diadakannya Urban Social Forum ke-11 tahun 2025 di Kota Denpasar. Berangkat dari pentingnya menuntut hak mobilitas pejalan kaki, Kopeka Bali bergerak di isu terkait pedestrian dan perkotaan. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah tur berjalan kaki dengan fokus meningkatkan kesadaran akan hak dasar pedestrian yang sering kali diabaikan.
Instagram: @kopekabali
(iws/iws)










































