Tiga belas orang meriung di Masa-Masa, Gianyar, Bali, pada Sabtu (17/01/2026) siang. Mereka duduk melingkar di atas tikar berwarna cokelat sambil membuat sketsa orang yang duduk di hadapannya. Sejumlah sketsa betebaran di depan para pelukis sketsa (sketcher) tersebut.
Setelah beberapa waktu membuat sketsa, para peserta meletakkan karyanya di bawah. Panitia acara tersebut, Urban Sketchers (USK) Bali, meminta beberapa peserta menyampaikan pendapat terkait sketsa yang dibuatnya.
Salah satu peserta kegiatan bertajuk "Art Jam and Postcard Exchange" itu adalah Widyasari Hanaya. Perempuan berkaca mata tersebut membuat lima sketsa orang yang duduk di hadapannya dengan menggunakan spidol. "Aku senang bisa berkenalan dengan beberapa orang," tuturnya kepada detikBali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Widyasari pun lalu bertukar sketsa dengan peserta lain. Perempuan berusia 25 tahun itu mendapat sketsa dirinya dari peserta lain. "Ini pertama kalinya ikut kegiatan USK Bali dan menyenangkan," ungkap ilustrator tersebut.
Salah satu peserta pelatihan membuat sketsa Widyasari Hanaya menunjukkan hasil karyanya di Gianyar, Bali, Sabtu (17/1/2025) Foto: Gangsar Parikesit/detikBali |
Pendiri USK Bali, Rudy Nurdiawan, menerangkan USK Bali berdiri pada 2012. Pria berusia 56 tahun itu mendirikan komunitas tersebut karena terinspirasi saat melihat lansia di Singapura membuat sketsa. Kakek dan nenek itu merupakan anggota Urban Sketchers.
Rudy AO, sapaan populer Rudy Nurdiawan, lalu membuat komunitas serupa saat pindah ke Pulau Dewata. Ia pun menghubungi Urban Sketchers di Amerika untuk mendirikan USK Bali. Komunitas sketsa itu akhirnya menjadi bagian dari komunitas Urban Sketchers internasional yang diinisiasi di Seattle, Amerika Serikat, oleh Gabriel Companario pada 2007.
Lambat laun USK Bali, Rudy AO melanjutkan, mulai dikenal. Mereka menyampaikan kegiatan komuntias tersebut dari mulut ke mulut. Selain itu, ada yang tertarik bergabung saat melihat mereka berkumpul dan membuat sketsa. "Kami juga menggunakan media sosial untuk mempromosikan sketsa," ujar pria yang berprofesi sebagai DC cover artist tersebut.
Baca juga: Merekam Kota Lewat Sketsa |
Kini anggota USK Bali hampir 300 orang meski yang aktif tidak sebanyak itu. Anggota komunitas ini dari beragam kalangan yang memiliki hobi sama yakni membuat sketsa dan tidak meninggalkan "pekerjaan rumah" saat membuat sketsa. "Buat sketsa harus beres saat itu juga," papar Rudy.
USK Bali berupaya membuat kegiatan seperti membuat sketsa sepekan sekali. Mereka umumnya berputar untuk mencari lokasi pembuatan sketsa. Hal itu tidak sulit mengingat Bali memiliki banyak objek sketsa seperti bangunan, pura, hingga aktivitas manusia.
Ada juga kegiatan berupa workshop. Namun, USK Bali memungut biaya untuk para peserta workshop. Uang itu digunakan untuk membayar pelatih dan membeli alat sketsa bagi para peserta.
Salah satu kegiatan lain yang dibuat USK Bali adalah pameran bertema "Story of Indonesia". Pameran tersebut dihelat di Masa-Masa sejak Sabtu (22/11/2025) hingga Sabtu (17/1/2026).
Sebanyak 331 sketsa dan 71 buku sketsa dari 102 sketcher (pembuat sketsa) ditampilkan dalam pameran "Story of Indonesia". Sketsa yang ditampilkan dalam pameran tersebut beragam mulai dari bangunan seperti gedung, kendaraan, makanan, jembatan, sawah, hingga aktivitas manusia seperti jual-beli di warung kaki lima.
Salah satu anggota Urban Sketchers Bali Chike Tania dengan sejumlah karyanya yang ditampilkan dalam pameran bertajuk "Story of Indonesia" di Gianyar, Bali, Sabtu (17/1/2026) Foto: Gangsar Parikesit/detikBali |
Salah satu anggota USK Bali adalah Chike Tania. Ilustrator ini baru dua tahun bergabung dengan USK Bali.
Menurut Chike, semangat dari urban sketchers bukan untuk berkompetisi membuat sketsa yang bagus. "Spiritnya itu merekam melalui sketsa dan saling sharing," ungkapnya.
Sebanyak 10 sketsa dan satu buku sketsa karya Chike pun ditampilkan di pameran bertema "Story of Indonesia". Salah satu karya Chike yang ditampilkan dalam pameran tersebut adalah sketsa berjudul "Street Food". Sketsa yang dibuat pada Kamis (25/9/2025) malam itu menggambarkan sebuah warung tenda dengan pengunjungnya.
Karya lain Chike yang ditampilkan adalah sketsa dua pekerja pria di warung babi guling Dauh Tungkub. Sketsa itu dibuat di buku sketsa pada Sabtu (05/04/2025).
Bahkan, lima sketsa Chike laku terjual di pameran tersebut. Sketsa bertema "Street Food" terjual Rp 2,5 juta. Adapun sketsa berjudul "Asam Laksa" yang dibuat pada Minggu (19/10/2025) terjual Rp 3,5 juta. Sketsa itu bergambar semangkuk asam laksa.
Rudy AO menambahkan USK Bali makin ramai anggotanya ingin melepas penat dari rutinitas harian dengan berkumpul dan membuat sketsa bersama. Namun, tak menutup kemungkinan membuat sketsa juga bisa mendatangkan rupiah.
Karya pelukis sketsa yang mahir kerap laku terjual. "Kalau ada yang jadi pelukis hebat dan sketsanya laku terjual, ya bagus dong," imbuhnya.
(gsp/hsa)












































