Mason Elephant Park, Gianyar, Bali, tengah disorot lantaran masih membuka atraksi tunggang gajah. Padahal, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) telah melayangkan surat peringatan (SP) melalui Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali.
Berikut fakta-fakta atraksi tunggang gajah Mason Elephant Park yang masih dibuka meski dapat SP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disentil Melanie Subono
Artis sekaligus aktivis Melanie Subono menyoroti atraksi gajah tunggang di Mason Elephant Park yang masih dibuka untuk wisatawan meski telah mendapat SP dari Kemenhut. Dalam unggahannya, Melanie mempertanyakan melalui media sosial apakah atraksi tunggang gajah di Mason Elephant Park masih dibuka, meskipun sudah menerima SP dari BKSDA Bali.
"Mau tanya untuk elephant riding apa masih bisa untuk hari Sabtu tanggal 24," kata Melanie dalam tangkap layar percakapan WhatsApp yang diunggahnya di media sosial.
Dalam unggahannya, Melanie mengeklaim akun media sosialnya diblokir oleh manajemen Mason Elephant Park setelah menanyakan ketersediaan atraksi tersebut. Ia kemudian menandai akun Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam unggahannya.
"Ada yg bs tag mason, gw d blok pagi ini setelah dapat SP 1 dari @kemenhut. Lapor pak @rajaantoni," tulis Melanie dalam tangkapan layar percakapan WhatsApp yang diunggah di media sosialnya.
Manajemen Akui Tunggang Gajah Masih Tersedia
Manajer Mason Elephant Park Ketut Sari mengakui atraksi gajah tunggang atau wahana elephant riding memang masih dibuka untuk pengunjung. Belum ada rencana penghentian atraksi gajah tunggang di Mason Elephant Park.
"Ya, (atraksi gajah tunggang) masih buka," kata Sari saat ditemui detikBali di kantornya, Rabu (21/1/2026).
Sari mengatakan, sudah ada SP yang dilayangkan ke manajemen Mason Elephant Park sejak sepekan lalu. Dalam SP itu, Mason Elephant Park diminta menghentikan atraksi gajah tunggangnya dalam waktu satu bulan.
Namun, atraksi gajah tunggang belum dihentikan manajemen Mason Elephant Park. Sari menyebut manajemen Mason Elephant Park akan menemui Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni untuk mengklarifikasi situasi dan kondisi 24 ekor gajah di lembaga konservasi itu.
"Dengan BKSDA kami sudah dan terus berkomunikasi. Owner kami juga bersiap menghadap Pak Menteri," kata Sari.
Pendapatan Jadi Alasan Utama
Sari menjelaskan penghentian atraksi gajah tunggang akan berdampak cukup signifikan pada pendapatan Mason Elephant Park sebagai tempat wisata sekaligus lembaga konservasi.
Setidaknya, 50 persen biaya operasional di Mason Elephany Park ditopang oleh pendapatan dari atraksi gajah tunggang itu. Karenanya, Sari mengatakan pihaknya tidak dapat serta merta menghentikan atraksi gajah tunggang di Mason Elephant Park.
"Jujur, revenue kami otomatis berkurang 50 persen lebih. Biaya operasional untuk kesejahteraan gajah dan staff kami tidak akan mencukupi jika (atraksi gajah tunggang) langsung ditutup," katanya.
Klaim Gajak Diperlakukan Baik
Sari menyebut sebanyak 24 gajah yang terdiri atas gajah jantan, betina, dan anakan di Mason Elephant Park diperlakukan dengan baik. Dalam atraksi tunggang gajah, hanya satu pawang dan maksimal dua pengunjung dengan berat badan ideal yang diperbolehkan menaiki satu gajah.
Tunggangan gajahnya juga dibuat khusus. Lapisan bantal, belasan karung, dan tempat duduk dari kayu berkualitas baik diklaim tidak akan menyakiti para gajah saat ditunggangi pengunjung.
"Maaf, kalau tamunya gemuk, duduk sendiri di satu gajah. Tapi, gajah yang berat badannya rerata 4 ton, mampu membawa beban 500 kilogram. Hanya 7 persen dari bobot (penunggangnya)," katanya.
Datangkan Dokter dan Ahli Hewan Sendiri
Selain itu, puluhan gajah itu juga diperlakukan khusus dalam kesehariannya. Ada dokter hewan asal Indonesia dan Thailand hingga para ahli hewan yang didatangkan dalam periode tertentu untuk mengawasi kesehatan puluhan gajah itu.
Kesejahteraan gajah dan seluruh areal di Mason Elephant Park juga diklaim sudah disertifikasi ACES (Asian Captive Elephant Standards). ACES adalah sertifikasi standar kesejahteraan gajah internasional yang mencakup kesejahteraan, nutrisi, kesehatan, hingga ruang hidup yang layak.
"Kami sudah diaudit setiap tahun oleh yang namanya ACES. Ada 200 kriteria yang kami penuhi," katanya.
Sari mengatakan, puluhan gajah betina, jantan, dan enam gajah anakan dikirim langsung dari Lampung serta Riau. Banyak gajah itu mengalami gangguan kesehatan akibat aktivitas manusia di dua provinsi itu.
Saat tiba di Mason Elephant Park, semua gajah yang didatangkan sejak 1997 itu ditangani oleh para pakar hewan dan dokter hewan. Mulai dari pemilihan lokasi di Desa Adat Taro hingga kondisi areal gajah di Mason Elephant Park yang berhawa sejuk mirip habitat aslinya.
BKSDA Bali Ancam Laporkan ke Kemenhut
BKSDA Bali akan melaporkan Mason Elephant Park ke Kemenhut jika atraksi gajah tunggang tidak dihentikan. Terlebih, manajemen Mason Elephant Park telah mendapatkan SP.
"SP 1 terbit dari kementerian untuk atraksi itu. BKSDA Bali sudah mengingatkan. BKSDA Bali akan laporkan ke pimpinan (Kemenhut)," kata Kepala BKSDA Bali Ratna Hendratmoko kepada detikBali, Rabu.
Baca juga: Bali Zoo Hentikan Aktivitas Gajah Tunggang |
Moko mengatakan manajemen Mason Elephant Park telah beberapa kali mendapat peringatan terkait atraksi tunggang gajah. Dalam peringatan tersebut, pengelola diminta menghadirkan alternatif atraksi yang lebih edukatif dan tidak berpotensi menyakiti satwa, sesuai kode etik konservasi hewan.
"Kami mendorong untuk (manajemen Mason Elephant Park) mempunyai alternatif lain. Lebih edukatif dan memberi pengetahuan ke publik bagaimana menyayangi satwa," ujar Moko.
"Ini etik. Apa enaknya nunggang gajah? Kalau masih terbukti, kami laporkan ke atas (Kemenhut)," imbuhnya.
(nor/nor)










































