Cuaca ekstrem melanda sejumlah wilayah Bali beberapa hari terakhir. Seperti angin puting beliung yang menerjang Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali, pada Minggu (18/1/2026). Peristiwa itu mengakibatkan kerusakan ringan pada rumah warga dan berdampak terhadap 14 kepala keluarga (KK).
Prakirawan cuaca Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Desak Made Pera Rosita Dewi, menjelaskan penyebab cuaca ekstrem tersebut. Ia menuturkan angin puting beliung di Jembrana tidak dapat terdeteksi secara dini karena terjadi dalam waktu sangat singkat.
"Untuk kejadian angin puting beliung belum dapat dideteksi dini karena durasinya sangat singkat (
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dewi menjelaskan fenomena tersebut dipicu oleh adanya belokan angin dan konvergensi yang meningkatkan pertumbuhan awan konvektif di wilayah Bali.
"Angin kencang dan puting beliung umumnya timbul akibat awam konveksi seperti cumulonimbus. Saat ini Bali juga sudah masuk musim hujan, jadi potensi pertumbuhan awan-awan konveksi semakin meningkat," ujarnya.
BMKG memprakirakan, pada periode 20-23 Januari 2026, sebagian besar wilayah Bali akan didominasi cuaca berawan dan berpotensi mengalami hujan ringan hingga lebat yang dapat disertai angin kencang serta kilat atau petir.
Terkait angin kencang yang terjadi di Denpasar dan Tabanan dalam beberapa hari terakhir, Dewi menegaskan kondisi tersebut tidak berkaitan dengan peristiwa puting beliung di Jembrana.
"Puting beliung bersifat lokal sehingga tidak mempengaruhi wilayah lainnya. Angin kencang di Denpasar dan Tabanan juga dipicu pertumbuhan awan cumulonimbus akibat belokan angin dan konvergensi," kata Dewi.
Gelombang Tinggi Diprediksi Terjadi di Bali Tiga Hari ke Depan
Selain hujan angin dan petir, BMKG Balai III Denpasar memprakirakan gelombang tinggi akan terjadi pada sebagian besar wilayah perairan Bali dalam tiga hari ke depan, 20-22 Januari 2026. Dewi menjelaskan bahwa gelombang tinggi berpotensi terjadi di perairan utara dan selatan Bali.
"Angin besar masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Bali untuk tiga hari ke depan dan dapat meningkatkan ketinggian gelombang di perairan utara dan selatan Bali," ungkap Dewi saat dihubungi, Selasa (20/1/2026).
BMKG memperkirakan tinggi gelombang laut dapat mencapai hingga 2 meter di perairan utara Bali dan hingga 4 meter di perairan selatan Bali. Dewi menyebut gelombang dengan ketinggian 2,5 hingga 4 meter termasuk dalam kategori gelombang tinggi yang berpotensi membahayakan aktivitas di laut.
Seiring kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat pesisir, nelayan, serta pelaku wisata bahari untuk meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, gelombang tinggi yang disertai angin kencang dapat berdampak signifikan terhadap keselamatan dan kelancaran aktivitas di perairan.
Berdasarkan pemantauan BMKG, angin kencang dan gelombang tinggi telah mengganggu aktivitas pelayaran, nelayan, dan penyeberangan di sejumlah perairan. Namun, Dewi menegaskan kondisi cuaca buruk ini tidak dipengaruhi oleh keberadaan bibit siklon.
"Sementara ini belum terdapat indikasi faktor cuaca lain seperti bibit siklon atau tekanan rendah yang memperburuk kondisi angin laut," ungkap Dewi.
BMKG mendapati arah angin di wilayah Bali didominasi dari barat daya dan barat laut terutama pada sore hari dan kecepatan yang berubah-ubah.
"Kecepatan angin tercatat berkisar antara 5 hingga 46 kilometer per jam pada 21 Januari 2026," kata Dewi.
(nor/nor)










































