Yoweri Museveni kembali memenangkan pemilihan Presiden Uganda. Hasil ini membuatnya menjabat sebagai presiden ketujuh kalinya sejak pertama kali berkuasa pada 1986.
Dilansir detikNews, Komisi Pemilihan Umum Uganda menyatakan Museveni meraih 71,65 persen suara dalam pemilu yang digelar Kamis (15/1/2026). Pemungutan suara berlangsung di tengah sorotan pengamat Afrika terkait maraknya penangkapan dan penculikan yang disebut menimbulkan rasa takut menjelang pemilu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenangan itu diumumkan di tengah laporan setidaknya 10 kematian dan intimidasi terhadap oposisi dan masyarakat sipil. Kemenangannya memungkinkan mantan pejuang gerilya itu untuk memperpanjang kekuasaannya selama 40 tahun di negara Afrika timur tersebut.
Museveni mengalahkan Bobi Wine (43) yang merupakan mantan penyanyi. Wine menyebut dirinya 'presiden ghetto' merujuk daerah kumuh Kampala tempat dia dibesarkan.
Wine telah menghadapi tekanan tanpa henti termasuk beberapa penangkapan sebelum pencalonan pertamanya untuk presiden pada 2021. Wine, yang nama aslinya adalah Robert Kyagulanyi, meraih 24,72 persen suara.
Wine juga menyatakan 'penolakan total terhadap hasil palsu' dan mengatakan dia bersembunyi setelah penggerebekan oleh pasukan keamanan di rumahnya.
"Saya tahu bahwa para penjahat ini mencari saya di mana-mana dan saya berusaha sebaik mungkin untuk tetap aman," tulisnya di X.
Polisi Uganda telah membantah penggerebekan dan mengatakan Wine masih berada di rumah. Namun, mereka mengatakan memang ada pengerahan pasukan di sekitar kediamannya.
"Kami tidak serta merta membantah orang-orang mengaksesnya, tetapi kami tidak dapat mentolerir kejadian di mana orang-orang menggunakan kediamannya untuk berkumpul dan memicu kekerasan," kata juru bicara polisi Kituuma Rusoke kepada wartawan.
Terdapat pengerahan pasukan keamanan besar-besaran di sekitar ibu kota Uganda, Kampala. Uganda telah berupaya mencegah protes serupa yang telah melanda negara tetangga Kenya dan Tanzania dalam beberapa bulan terakhir.
Banyak warga Uganda masih memuji Museveni sebagai orang yang mengakhiri kekacauan pasca-kemerdekaan negara itu dan mengawasi pertumbuhan ekonomi yang pesat, meskipun banyak yang hilang akibat serangkaian skandal korupsi besar-besaran yang tak henti-hentinya.
"Saya sangat senang melihat dia menang. Kemenangan ini diraih berkat kerja keras, dedikasi, dan komitmennya kepada rakyat Uganda," kata Isaac Kamba, seorang guru berusia 37 tahun di sebuah demonstrasi pro-pemerintah di lapangan kriket Kampala.
Seorang juru bicara partai Wine, National Unity Platform, mengatakan bahwa hasil tersebut 'palsu'. Wine menuduh adanya 'kecurangan penghitungan suara besar-besaran' dan serangan terhadap para pejabatnya di bawah kedok pemadaman internet yang telah berlangsung sejak Selasa.
Internet telah dipulihkan pada Sabtu (17/1) malam. Pengamat pemilu Afrika mengatakan mereka tidak melihat bukti kecurangan penghitungan suara, tetapi mengecam 'laporan intimidasi, penangkapan, dan penculikan' yang menargetkan oposisi dan masyarakat sipil.
Partai penguasa Museveni, Gerakan Perlawanan Nasional, juga memiliki keunggulan yang signifikan dalam kursi parlemen. Museveni, yang merebut kekuasaan pada 1986, memiliki kendali penuh atas negara dan aparat keamanan di Uganda.
Dia disebut telah dengan kejam menghancurkan setiap penantang selama pemerintahannya. Tokoh oposisi utama lainnya, Kizza Besigye, yang empat kali mencalonkan diri melawan Museveni, diculik di Kenya pada tahun 2024 dan dibawa kembali ke pengadilan militer di Uganda untuk diadili atas tuduhan pengkhianatan yang masih berlangsung.
Profil Museveni
Presiden Uganda sekaligus pemimpin Partai Gerakan Perlawanan Nasional (NRM), Yoweri Museveni, resmi mendaftarkan diri kembali sebagai calon presiden untuk Pemilu Uganda 2026. Pendaftaran dilakukan di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Uganda, Kampala, Selasa (23/9/2025). REUTERS/Abubaker Lubowa Foto: REUTERS/Abubaker Lubowa |
Dikutip dari situs resmi pemerintah Uganda, pria bernama lengkap Yoweri Kaguta Museveni lahir pada 1944. Dia menjadi Presiden Republik Uganda pada 29 Januari 1986 setelah memimpin gerilya selama 5 tahun.
Dia disebut pergi ke hutan bersama 26 pemuda lainnya dan mengorganisir Gerakan Perlawanan Nasional dan Tentara Perlawanan Nasional (NRM/NRA) untuk menentang tirani yang telah dilakukan rezim sebelumnya terhadap rakyat Uganda.
Serangan menuju Kampala dimulai pada 17 Januari 1986 dari berbagai bagian wilayah tengah. Museveni adalah komandan dari seluruh pasukan. Mereka merebut kekuasaan pada 26 Januari 1986.
Setelah kemenangan, dia membentuk pemerintahan yang menyatukan kelompok-kelompok politik di negara itu. Sebelum perjuangan 1981-1986, Museveni adalah salah satu pemimpin dalam perlawanan anti-Amin tahun 1971-1979 yang menyebabkan jatuhnya rezim Amin.
Museveni disebut telah aktif secara politik sejak masa sekolahnya di Sekolah Ntare, Mbarara, di Uganda Barat Daya. Dia mempelajari ilmu politik di Universitas Dar es Salaam dan lulus pada 1970 dengan gelar sarjana di bidang ekonomi dan ilmu politik.
Setelah kudeta Idi Amin pada 1971, Museveni berperan penting dalam membentuk FRONASA (Front untuk Keselamatan Nasional). Fronasa membentuk inti dari salah satu kelompok pejuang Uganda yang, bersama dengan Pasukan Pertahanan Rakyat Tanzania, menggulingkan rezim Amin pada April 1979.
Dilansir BBC, ekonomi Uganda mulai tumbuh stabil dan selama 10 tahun. Negara itu mengalami pertumbuhan tahunan rata-rata lebih dari 6%.
Pendaftaran sekolah dasar meningkat dua kali lipat dan tingkat HIV menurun karena kampanye anti-AIDS yang dipelopori oleh Museveni.
Museveni awalnya merupakan kesayangan Barat. Tetapi, reputasinya tercoreng pada 1998, ketika Uganda dan Rwanda menginvasi negara tetangga, Republik Demokratik Kongo, untuk mendukung pemberontak yang berjuang menggulingkan pemerintah.
Namun kini, para kritikus juga mengeluhkan Presiden Uganda itu semakin kurang toleran terhadap pandangan yang berbeda. Dia juga semakin terlihat enggan menyerahkan kekuasaan.
Padahal, Museveni pernah mengatakan dalam kumpulan tulisan tahun 1986: 'Masalah Afrika secara umum, dan Uganda khususnya, bukanlah rakyatnya tetapi para pemimpin yang ingin mempertahankan kekuasaannya terlalu lama'. Namun pada 2005, pandangannya tampaknya telah berubah dan konstitusi Uganda diubah dengan menghapus batasan jumlah masa jabatan presiden.
Pada 2017, batasan usia untuk calon presiden juga dihapus. Langkah itu menyebabkan anggota parlemen melempar kursi dalam perkelahian parlementer yang kacau.
Baca selengkapnya di detikNews
(nor/nor)











































