Usung Anies Capres, Subanda Ingatkan Konsekuensi NasDem di Bali

Usung Anies Capres, Subanda Ingatkan Konsekuensi NasDem di Bali

Chairul Amri Simabur - detikBali
Senin, 03 Okt 2022 15:48 WIB
Pengamat Politik I Nyoman Subanda
Foto: I Nyoman Subanda, pengamat politik yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Undiknas Denpasar, Bali. (Istimewa)
Denpasar -

Pengamat politik, I Nyoman Subanda, melihat adanya keberanian Partai NasDem ketika mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden (capres). Tapi di sisi lain, deklarasi yang lebih awal ini membuat ruang pilihan bagi partai lain untuk berkoalisi dengan NasDem akan semakin sempit. Subanda pun menilai, NasDem harus siap menerima konsekuensi.

"Harus diakui NasDem satu langkah lebih maju dan berani dibandingkan partai-partai lainnya. Meski sebenarnya, NasDem akan berat kalau mengusung sendiri karena harus berkoalisi dengan partai lain yang belum tentu mendukung. Tapi ini langkah berani," jelas Subanda, Senin (3/10/2022).

Setidaknya, sambung Subanda, NasDem telah menunjukkan diri sebagai partai politik yang independen dalam menentukan sikap terkait calon presiden yang hendak diusung pada Pilpres 2024 mendatang.


"NasDem sudah punya independensi. Tanpa ada campur tangan partai lain dalam menentukan capres," imbuhnya.

Meski demikian, Subanda mengingatkan bahwa urusan mengusung capres tidak cukup hanya bermodalkan keberanian semata. Bisa jadi, sikap politik NasDem ini akan menjadi bumerang ketika partai lainnya yang punya minat berkoalisi dengan NasDem namun tidak cocok dengan figure Anies Baswedan.

"Bisa jadi bumerang ketika partai lain atau calon lainnya tidak menghendaki Anies. Tentu tidak memungkinkan koalisi dengan NasDem dilakukan," ujar Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Undiknas ini.

Masih dalam konteks koalisi, NasDem nantinya juga akan dihadapkan pada pilihan sulit ketika harus konsisten dengan sikapnya yang telah mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai capres. Atau pada akhirnya menganulir keputusan yang telah dibuat hari ini.

"Tergantung NasDem akan pilih yang mana. Tapi kalau selama ini, NasDem lumayan konsisten dengan sikap politiknya," ujarnya.

Selain itu, Subanda menyebutkan, penentuan capres juga memiliki andil terhadap elektabilitas partai. Ia mengingatkan pada Jokowi Effect yang dirasakan PDIP. "Sekarang Anies Baswedan Effect ini tinggi atau tidak," jelas Subanda.

Khusus di Bali, ia melihat peluang Anies Baswedan dan NasDem untuk menggaet masyarakat selaku pilih masih fifty-fifty. Terlebih ditarik ke belakang, pemilih di Bali cenderung mengarahkan pilihannya pada calon maupun partai politik berplatform nasionalis atau kombinasi antara nasionalis dan Islam.

"Terkecuali figur yang diusung sudah memiliki akseptabilitas (tingkat diterima) yang tinggi dan berimbas pada partai. Akseptabilitas ya. Kalau elektabilitas (tingkat keterpilihan) itu nanti," bebernya.

Akseptabilitas ini, sambungnya, bisa diukur dari kapabilitas atau kemampuan dari figur yang diusung. Kemudian jejak rekam dan investasi sosial selama ini salah satunya ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta apakah direspon positif atau tidak. Serta citra dari figur yang diusung di hadapan publik.

"Di Bali, awalnya Anies lumayan bagus ketika jadi akademisi dan tim sukses Jokowi. Namun itu turun ketika ia menjadi menteri dan semakin turun lagi ketika ada kelompok yang berberangan dengan Ahok (mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama). Ini kan salah satu perjalanan politik," pungkasnya.



Simak Video "Survei SMRC: Efek Usung Anies, Suara NasDem di Indonesia Timur Turun"
[Gambas:Video 20detik]
(hsa/dpra)