Kementan Targetkan Indonesia Bebas Rabies di 2030

Kementan Targetkan Indonesia Bebas Rabies di 2030

Chairul Amri Simabur - detikBali
Kamis, 29 Sep 2022 23:16 WIB
Penyerahan vaksin rabies secara simbolis dari Kementan kepada Asisten II Kabupaten Tabanan, I Wayan Kotio (kiri), dalam peringatan Hari Rabies Sedunia di Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Kamis (29/9/2022). (Istimewa)
Penyerahan vaksin rabies secara simbolis dari Kementan kepada Asisten II Kabupaten Tabanan, I Wayan Kotio (kiri), dalam peringatan Hari Rabies Sedunia di Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Kamis (29/9/2022). (Istimewa)
Tabanan -

Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan Indonesia bebas rabies di 2030. Target tersebut diungkapkan Sekretaris Jenderal Kementan, Kasdi Subagyono, dalam peringatan Hari Rabies Sedunia di Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Kamis (29/9/2022).

"Peta jalan dalam bentuk masterplan nasional pemberantasan rabies di Indonesia dan One Health Roadmap Eliminasi Rabies Nasional 2030 telah disusun sebagai panduan bersama," ujar Kasdi.

Vaksinasi terhadap hewan penular rabies atau HPR, seperti anjing dan kucing, masih menjadi strategi utama untuk membangun sistem kekebalan pada hewan dan mencegah penyebaran pada manusia. Selain itu, Kementerian Pertanian juga meluncurkan Tim Siaga Rabies atau Tisira sebagai bentuk kesiapsiagaan pengendalian rabies yang lebih intensif.


Kasdi menyebutkan, target Indonesia Bebas Rabies pada 2030 menjadi tantangan semua pihak. Terlebih di Indonesia, dari 34 provinsi, ada 26 provinsi yang belum terbebas dari rabies. Salah satunya Provinsi Bali.

Ia menjelaskan, sejak 2010, Provinsi Bali sudah melakukan vaksinasi secara massal. Selain itu, di Provinsi Bali juga dikembangkan protokol tata laksana kasus gigitan terpadu.

Intervensi dalam bentuk vaksinasi massal tersebut sempat memberikan hasil yang signifikan pada 2013. Namun prestasi tersebut belum konsisten untuk dipertahankan dan jumlah kasus pada tahun-tahun selanjutnya cenderung meningkat. "Sehingga diperlukan strategi pengendalian yang lebih efektif lagi," imbuhnya.

Sementara itu, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Nasrullah menyebutkan setiap tahunnya Pemerintah Pusat menyiapkan jutaan vaksin untuk wilayah endemik rabies. "Khususnya di Bali, ada juga Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara," jelasnya.

Ia menjelaskan, selain tingkat kesadaran masyarakat untuk memvaksinasi hewan peliharaannya masih rendah, kendala lainnya dalam pengendalian rabies adalah banyaknya HPR liar. "Baik itu anjing maupun kucing yang tanpa pemilik. Itu juga menjadi kendala kami dalam pemberantasan rabies," sebutnya.

Namun demikian, sambungnya, berbagai langkah-langkah telah diupayakan salah satunya dengan menerapkan pemberian oral vaksin untuk pengendalian rabies pada hewan yang lebih efektif.

"Agar tidak kejar-kejaran dengan hewan. Mungkin disimpan (pada makanan), dia makan, beberapa jam kemudian meledak di dalamnya seperti kapsul. Langkah-langkah ini semua kami lakukan untuk meminimalkan risiko penyebaran rabies di Indonesia," sebutnya.



Simak Video "Balita Suspek Rabies di Jembrana Meninggal, Puluhan Anjing Divaksinasi"
[Gambas:Video 20detik]
(iws/iws)