Pembunuhan Guru TK

Tetangga Ungkap Sosok R Dikenal Pintar Bahasa Mandarin-Rajin Ibadah

Ahmad Viqi - detikBali
Sabtu, 13 Agu 2022 01:00 WIB
Rani alias Haerani (29), Guru TK korban pembunuhan mandor bangunan di Lombok.
Rani alias Haerani (29), Guru TK korban pembunuhan mandor bangunan di Lombok. Foto: ist
Mataram -

Tetangga korban pembunuhan Guru TK, Sunia Niatun (59) ungkap kebiasaan R (29) selama tinggal lima tahun di Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, NTB.

Sunia mengaku seolah-olah tidak percaya R memiliki hubungan asmara dengan Sulyadi (41) yang belakangan diketahui sebagai dalang kematian R di kediamannya pada Rabu (26/7/2022) lalu. Sunia juga mengaku mengenal Rani sebagai perempuan yang keseharian menjadi guru TK di Mataram itu.

"Dia jarang keluyuran keluar rumah selama tinggal menetap pada tanggal 9 September 2017 lalu. Selama bertetangga dia tidak pernah macam-macam," jelas Sunia kepada detikBali, Jumat malam (12/8/2022) via sambungan telepon.



Sunia hanya tahu soal R hanya menjadi guru TK dan mengajar les privat di rumahnya. "Dia pintar bahasa Inggris dan Mandarin," ungkap Sunia.

Selain pintar berbahasa Inggris dan Mandarin, R juga dikenal rajin beribadah di kompleks. Selama hidup sebatang kara di perumahan, R juga dikenal jarang membawa orang ke rumahnya.

"Dia kan hidup sendirian. Saya tidak pernah lihat bawa laki-laki. Temannya saja jarang ke sana," ujar Sunia.

Keseharian R memang terbilang tertutup oleh Sunia. Setiap pagi pukul 08.00 Wita, R selalu berangkat mengajar melalui depan rumah Sunia. Sunia juga mengaku pernah berbincang-bincang dengan R terkait kondisi keluarganya.

"Dia (R) ini kan punya bapak tiri di Ampenan. Karena tidak enak tinggal sama bapak tirinya, itu alasan dia ambil rumah di sini bareng kita. Intinya dia baik orangnya. Pintar bergaul gitu walaupun jarang keluar rumah," cerita Sunia.

Pasca kejadian pembunuhan R tanggal 26 Juli 2022 lalu, Sunia pun sempat curiga karena R tidak pernah nongol selama 3 hari.

"Rumahnya sepi sama sekali waktu itu. Saya kan jarak dua rumah dengan R. Tiba-tiba saya dengar ibunya nangis histeris sebelum magrib malam Jumat itu. Ternyata dia meninggal. Kami jadi takut," katanya.

Bahkan anak-anak di kompleknya Rani pun menangis ketika tahu gurunya itu tewas mengenaskan dengan sejumlah luka lebam di tubuhnya.

"Siswanya nangis. Saya juga tidak berani lihat waktu itu. Pas dah kejadiannya pada malam 1 Muharram 1444 kemarin," tambahnya Sunia.

Sebelumnya, Kapolresta Mataram Kombes Pol Mustofa mengatakan R meninggal dunia akibat kepalanya dihantam ke tembok kamar mandi oleh Sulyadi yang diketahui sebagai mandor bangunan di kompleks perumahan R.

Sulyadi juga mengikat mulut korban dengan kain (baju) milik Sulyadi yang belakangan diketahui memiliki hubungan asmara dengan korban.

Kini Sulyadi diamankan di Mapolresta Kota Mataram. Sulyadi juga ditetapkan menjadi tersangka pembunuhan R dan diancam pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.




Simak Video "Dikpora-BPKAD Dompu Digeledah Terkait Dugaan Korupsi KONI"
[Gambas:Video 20detik]
(nor/nor)