Distan Bali Telusuri Penularan 63 Sapi Positif PMK

I Wayan Sui Suadnyana - detikBali
Sabtu, 02 Jul 2022 15:07 WIB
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Denpasar, Bali, Sabtu (2/7/2022).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Denpasar, Bali, Sabtu (2/7/2022). Foto: I Wayan Sui Suadnyana/detikBali
Denpasar -

Sebanyak 63 hewan ternak sapi di Bali dinyatakan positif terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK). 63 kasus itu ditemukan di tiga kabupaten, yakni sebanyak 38 kasus di Gianyar, 21 kasus di Buleleng, dan 4 di Karangasem.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Provinsi Bali telah mencari jejak pembawa virus PMK ke Bali, namun belum ditemukan. Karena itu, hingga kini belum diketahui dari mana sapi Bali bisa terjangkit PMK.

"(Dugaan dari mana tertular) itu sudah kami cari jejaknya, tapi belum bisa menemukan," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada kepada wartawan di kantornya, Sabtu (2/7/2022).


Sunada menuturkan, sejak kasus PMK muncul di berbagai daerah di Indonesia pada 6 Mei lalu, terutama Jawa Timur, pihaknya langsung berkoordinasi dengan dinas terkait di kabupaten dan kota se-Bali. Pihaknya berkoordinasi guna mencegah masuknya PMK ke Pulau Dewata.

Adapun upaya yang dilakukan yakni membuat biosekuriti di Gilimanuk, Jembrana. Dengan begitu, setiap pedagang ternak antar-pulau diwajibkan membawa disinfektan pada kendaraannya. Saat balik ke Bali, kendaraan wajib untuk dimandikan dan disemprot dengan disinfektan.

"Begitu dia (pedagang antar-pulau) balik dari Jawa, pertama dilakukan adalah membersihkan atau memandikan mobilnya, langsung disemprot dengan disinfektan. Itu sudah dilakukan," ujar Sunada.

Selain di Gilimanuk, penjagaan ketat juga dilakukan di pelabuhan lain seperti di Celukan Bawang Buleleng dan Padangbai Karangasem. Meski demikian, penyakit PMK kini tetap mewabah di Bali. Karena itu, Sunada belum mengetahui dari mana ternak tersebut terjangkit PMK.

"Biosekuriti yang tadi itu sudah dilakukan di pintu masuk Gilimanuk, Celukan Bawang, dan Karangasem, kami jaga ketat di sana. (Namun) yang namanya penyakit, ya sudah untuk dijaga," tuturnya.

Menurut Sunada, penyakit PMK di Bali pertama kali ditemukan di Kabupaten Gianyar pada akhir Juni 2022. Di lokasi temuan penyakit tersebut, terdapat kambing yang jaraknya hanya sekitar 20 meter dari lokasi sapi terjangkit. Namun kambing tersebut negatif dari PMK setelah diuji laboratorium.

"Padahal di sebelahnya sudah ada kambing. Tidak terlalu jauh, hanya 20 meter, itu ada kambing. Setelah dicek dan uji ke lab, hasilnya negatif. Dan setelah kami melakukan stamping out, sampai sekarang pun belum ada tanda-tanda atau gejala-gejala," ungkapnya.

Sunada menuturkan, berbagai hewan ternak sapi yang positif terjangkit PMK umumnya mengalami gejala, seperti mulut luka-luka dan mengeluarkan lendir, demam tinggi, hingga nafsu makan berkurang atau hilang. Namun kebanyakan sapi di Bali gejalanya tidak terlalu parah.

"Gelaja yang ada di Bali tidak separah itu, ada gejala masih bisa makan dia. Gejalanya itu enggak parah banget, ternak-ternak yang positif, masih lincah. Ketika itu diuji labnya tapi itu positif. Itu yang memperkuat ternak itu kena PMK. Masih sehat ternak itu, makannya bagus, cuma hasilnya menunjukkan itu positif," ungkap Sunada.



Simak Video "2 Tahun Berturut-turut Tak Dapat Murid, SMP di Jembrana Terancam Tutup"
[Gambas:Video 20detik]
(irb/irb)