detikBali

Darma Sulap Sepeda Tua Jadi Sepeda Listrik, Bisa Hemat Biaya hingga 95%

Terpopuler Koleksi Pilihan

Darma Sulap Sepeda Tua Jadi Sepeda Listrik, Bisa Hemat Biaya hingga 95%


Agus Eka Purna Negara - detikBali

Sejumlah koleksi sepeda lawas yang dikonversi jadi sepeda listrik di bengkel kerja milik Darma di kawasan Buluh Indah, Denpasar, Minggu (18/10/2026).
Sejumlah koleksi sepeda lawas yang dikonversi jadi sepeda listrik di bengkel kerja milik Darma di kawasan Buluh Indah, Denpasar, Minggu (18/10/2026). (Foto: Agus Eka/detikBali)
Badung -

Sepeda tua bisa disulap menjadi kendaraan listrik dengan biaya konversi mulai Rp 7,6 juta. Peluang ini digarap Dharmawan Kusna H melalui Bengkel E-Bike di Darmasaba, Abiansemal, Badung, dengan menawarkan sepeda listrik yang diklaim mampu menghemat biaya operasional hingga 95% dibandingkan sepeda motor berbahan bakar bensin.

Usaha tersebut berawal dari hobi Darma mengotak-atik sepeda pada 2009. Ia mencoba membandingkan penggunaan mesin listrik dan bensin sebelum akhirnya fokus mengembangkan sepeda listrik.

"Awal mula saya mendirikan sepeda listrik ini tidak serta-merta begitu saja, diawali dari hobi saya di tahun 2009. Saya suka mengutak-atik sepeda, mencoba memasangkan mesin listrik dan bensin untuk membandingkan mana yang lebih awet dan aman," kata Darma kepada detikBali, Minggu (18/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usaha konversi itu mulai berkembang saat pandemi COVID-19 pada 2019-2020. Ketika banyak orang bersepeda, Darma mulai menerima permintaan pemasangan mesin listrik dan mempromosikan jasanya melalui media sosial.

ADVERTISEMENT

"Mulailah terjadi COVID di tahun 2019-2020 kemarin, teman-teman mulai banyak yang bersepeda dan saya buatkan mereka sepeda listrik. Dari awal situ saya iseng iklankan di media sosial dan ternyata peminatnya cukup lumayan besar hingga sekarang," tuturnya.

Darma menilai sepeda listrik lebih praktis dalam perawatan karena tidak memerlukan penggantian oli mesin. Pemilik cukup membersihkan komponen dan mengganti pelumas pada bagian tertentu.

"Saya dapat sepeda listrik ini mekanismenya jauh lebih simpel dan minim perawatan, tanpa harus ganti oli, hanya cukup dibersihkan dan mungkin pergantian grease saja. Untuk perawatannya, saya merasa jauh lebih mudah karena tinggal ganti baterai dan sepeda berjalan lancar," ujar Darma.

Biaya Konversi Mulai Rp 7,6 Juta

Biaya konversi sepeda listrik di Bengkel E-Bike mulai Rp 7,6 juta, bergantung pada kebutuhan jarak tempuh. Pilihan jarak tempuh yang tersedia berkisar 40 hingga 200 kilometer, menyesuaikan kapasitas baterai.

Komponen yang dipasang meliputi dinamo penggerak, kabel utama, pengontrol, layar tampilan, tuas gas, dan sensor bantuan pedal. Sebagian besar sepeda dapat dikonversi, kecuali yang menggunakan sistem thru axle pada as roda.

Sejumlah koleksi sepeda lawas yang dikonversi jadi sepeda listrik di bengkel kerja milik Darma di kawasan Buluh Indah, Denpasar, Minggu (18/10/2026).Sejumlah koleksi sepeda lawas yang dikonversi jadi sepeda listrik di bengkel kerja milik Darma di kawasan Buluh Indah, Denpasar, Minggu (18/10/2026). Foto: Agus Eka/detikBali

Pengerjaan mandiri membutuhkan satu hingga dua hari setelah perakitan ruji dan pelek selesai. Jika dimulai dari awal, termasuk perakitan baterai, prosesnya bisa memakan waktu lima hari hingga satu minggu.

Dari sisi operasional, sepeda listrik diklaim lebih hemat dibandingkan sepeda motor bensin. Darma menyebut biaya penggunaan sepeda listrik sekitar Rp 1.000 per kilometer, sedangkan sepeda motor membutuhkan biaya Rp 20.000 per 100 kilometer berdasarkan asumsi konsumsi BBM satu liter untuk 48 kilometer.

"Minimal biaya yang diperlukan untuk instalasi sepeda listrik ini dimulai dari Rp7,6 jutaan, harga tersebut masih bisa dikurangi namun mengurangi performa jarak tempuhnya. Banyak beredar di pasaran harga sangat murah, namun kami tidak menjualnya mengingat kualitas yang jauh dari standar," tegasnya.

Untuk Olahraga hingga Bantu Mobilitas

Sepeda listrik konversi juga digunakan untuk mendukung usaha tur sepeda di Bali. Kendaraan ini membantu mobilitas wisatawan menuju lokasi wisata.

Namun, Darma menilai krisis BBM tidak otomatis mendongkrak penjualan. Menurutnya, masyarakat tetap perlu mendapat informasi mengenai manfaat sepeda listrik sebagai sarana transportasi dan olahraga.

"Dengan adanya krisis BBM ini, tidak serta-merta langsung mendongkrak penjualan. Tetap harus dari diri kita memperkenalkan betapa bermanfaatnya sepeda listrik ini bagi masyarakat luas sebagai sarana transportasi maupun alat olahraga," jelas Darma.

Selain untuk hobi dan wisata, sepeda listrik konversi dimanfaatkan untuk membantu mobilitas penyandang disabilitas. Sistem hibridanya memungkinkan pengendara tetap mengayuh sambil mendapat bantuan tenaga listrik.

"Namun juga tetap mempertahankan dari sisi bersepedanya karena rasanya beda dengan sepeda motor listrik yang hanya menggunakan gas saja. Di sini kita tetap mengombinasikan atau hibrida tenaga listrik dan tenaga kita, jadi kita tetap olahraga," kata Darma.

Bengkel E-Bike menggunakan baterai lithium-ion yang berukuran ringkas dan ringan. Darma menyebut belum ada pelanggan yang mengganti baterai sejak awal pandemi hingga 2026.

Baterai bekas pelanggan juga disumbangkan kepada gerakan Sumba Sustainable untuk dimanfaatkan sebagai sumber penerangan di daerah terpencil.

"Limbah dari baterai ini tidak serta-merta kita buang, namun kita sumbangkan ke Sumba Sustainable. Di sana mereka menggunakan limbah baterai ini sebagai alat penerangan di desa-desa terpencil yang belum terjangkau energi listrik," tuturnya.

Darma berharap pemerintah mendorong penggunaan sepeda dan sepeda listrik untuk membantu mengurangi antrean BBM, menjaga kesehatan, serta mengurai kemacetan.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads