detikBali

Disengat Kalajengking demi Rp 45 Ribu Sehari, Kisah Perajin Atap Alang-alang Bali

Terpopuler Koleksi Pilihan

Disengat Kalajengking demi Rp 45 Ribu Sehari, Kisah Perajin Atap Alang-alang Bali


Fatih Kudus Jaelani - detikBali

Nengah Lanus (65), buruh rajut atap alang-alang sedang bekerja di Desa Paksebali, Klungkung, Bali, Sabtu (1/8/2026).
Nengah Lanus (65), buruh rajut atap alang-alang sedang bekerja di Desa Paksebali, Klungkung, Bali, Sabtu (1/8/2026). (Foto: Fatih Kudus Jaelani/detikBali)
Klungkung -

Sengatan kalajengking dan gigitan lipan sudah menjadi "teman kerja" I Nengah Lanus (65). Hampir setiap bulan, perajin atap alang-alang asal Banjar Timbrah, Desa Paksebali, Klungkung, Bali, itu merasakan sengatan hewan berbisa saat merajut alang-alang.

Namun, rasa sakit itu tak membuatnya berhenti bekerja. Dengan upah hanya Rp 3 ribu per lembar, Lanus tetap bertahan demi membawa pulang sekitar Rp 45 ribu sehari.

Di balik deretan vila dan restoran berarsitektur tropis di Bali, tangan-tangan seperti Lanus menjadi bagian dari proses yang jarang terlihat. Selama puluhan tahun, ia merangkai alang-alang menjadi atap tradisional yang menghiasi bangunan wisata. Ironisnya, pekerjaan yang menopang estetika industri pariwisata itu belum mampu mengangkat kesejahteraan para buruhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang saya sudah tua. Paling banyak bisa 15 lembar per hari. Mulai jam 8, selesai nanti sekitar jam 4 sore," kata Lanus saat ditemui detikBali di tempat kerjanya, Sabtu (1/8/2026).

ADVERTISEMENT

Bagi Lanus, tantangan terbesar bukan hanya menyelesaikan target produksi. Tumpukan alang-alang yang lembap kerap menjadi tempat persembunyian kalajengking dan lipan. Hewan-hewan itu nyaris selalu dijumpai para perajin saat mengolah bahan baku.

Ia mengaku sengatan maupun gigitan binatang berbisa sudah menjadi bagian dari pekerjaannya.

"Dalam satu bulan pasti ada satu kali kena gigitan. Kalau kita lihat, dia yang mati. Kalau ndak, kita kena sengat. Dan rasanya sakit sekali. Terutama lipan," terangnya sembari merajut alang-alang.

Saat terkena gigitan, Lanus hanya berhenti sejenak hingga nyeri dan bengkak mereda. Setelah itu, ia kembali bekerja agar target hariannya tidak meleset.

Dalam sehari, Lanus rata-rata mampu menyelesaikan 15 lembar atap. Dengan upah Rp 3 ribu per lembar, penghasilannya sekitar Rp 45 ribu per hari atau kurang dari Rp 1,5 juta per bulan.

"Digajinya per bulan. Ya, kurang Rp 1,5 juta," jelasnya.

Nengah Lanus (65), buruh rajut atap alang-alang sedang bekerja di Desa Paksebali, Klungkung, Bali, Sabtu (1/8/2026).Nengah Lanus (65), buruh rajut atap alang-alang sedang bekerja di Desa Paksebali, Klungkung, Bali, Sabtu (1/8/2026). Foto: Fatih Kudus Jaelani/detikBali

Penghasilan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama istrinya yang sakit dan tidak lagi bekerja. Karena pendapatan tak mencukupi, Lanus mengaku kerap berutang.

"Mau bagaimana lagi. Uang segitu tidak cukup zaman ini. Saya menghidupi dua orang. Ibu di rumah tidak bekerja karena sakit," paparnya.

Agar dapur tetap mengepul, Lanus juga menjual pisang. Selebihnya, ia hanya bisa berharap rezeki datang.

Di Balik Atap Vila Bali

Di tempat yang sama, pemilik usaha Komang Sugiarta mengatakan atap alang-alang dijual Rp 20 ribu per lembar. Sebagian besar pesanan berasal dari proyek vila dan restoran di Ubud, Gianyar, hingga Lombok. Sementara itu, permintaan dari masyarakat Bali lebih banyak untuk kebutuhan bangunan suci dan upacara adat.

Meski demikian, usaha ini sangat bergantung pada proyek pembangunan dan ketersediaan bahan baku. Saat musim hujan, alang-alang sulit didapat. Sebaliknya, ketika bahan baku melimpah, pesanan justru bisa menurun.

"Beginilah kondisinya. Kadang saat bahan ndak ada, pesanan banyak, kadang saat bahan banyak pesanan sepi seperti sekarang," terang Komang.

Menurut Komang, harga jual Rp 20 ribu per lembar juga telah memperhitungkan biaya pembelian bahan baku, ongkos pengiriman, hingga risiko penyusutan selama penyimpanan.

Di balik megahnya bangunan bergaya tropis yang menjadi wajah pariwisata Bali, ada kerja keras para perajin seperti Lanus. Lembaran alang-alang hasil rajutannya mempercantik vila, restoran, hingga bangunan suci. Namun, rantai usaha yang menopang industri itu belum sepenuhnya mampu menghadirkan kesejahteraan bagi para buruh yang mengerjakannya.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads