Parade Seni Budaya Desa Adat Bedha tidak hanya menjadi ajang pelestarian seni dan budaya Bali, tetapi juga membuka peluang bagi para perajin tradisional untuk memperkenalkan hasil karya mereka kepada masyarakat luas. Salah satu yang merasakan manfaatnya adalah perajin keris asal Dusun Langudu, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Jero Mangku Nyoman Suarta (64).
Selama mengikuti festival, Suarta telah menerima empat pesanan keris dari pengunjung yang berasal dari Bangli, Karangasem, Gianyar, dan Buleleng. Seluruh pesanan tersebut dikerjakan secara khusus di rumah sesuai permintaan masing-masing pemesan.
"Adanya festival ini sangat bermanfaat. Selain memperkenalkan perajin kecil seperti saya kepada masyarakat luas, juga ada yang langsung memesan keris," ujar Suarta saat ditemui di lokasi, Sabtu (11/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suarta mengatakan keikutsertaannya dalam festival tersebut bertujuan melestarikan kerajinan tradisional sekaligus memperkenalkan keris sebagai warisan budaya yang masih tetap diminati. Menurutnya, festival seperti ini menjadi ruang penting bagi perajin kecil untuk mendapatkan perhatian masyarakat.
Suarta dalam proses pembuatan keris menggunakan bahan baku berupa besi yang dipadukan dengan nikel. Seluruh material kini diperoleh dengan membeli karena bahan baku khusus untuk pembuatan keris tidak lagi mudah didapat.
Harga yang ia tawarkan untuk sebuah keris bervariasi, mulai dari jutaan hingga puluhan juta. Hal itu tergantung dari bahan, lamanya proses, dan yang tentunya keinginan pemesan.
Suarta mulai menekuni kerajinan keris sejak 2019. Sebelumnya ia membuat berbagai perabot rumah tangga. Memiliki pewaris darah perajin keris, ia kemudian diminta membuat keris untuk keperluan upacara adat. Berbekal pengalaman tersebut, hasil karyanya mulai dikenal melalui rekomendasi dari mulut ke mulut.
Seiring waktu, pesanan yang diterimanya makin beragam, mulai dari keris untuk upacara keagamaan, perlengkapan tari topeng hingga berbagai benda sakral yang digunakan dalam kegiatan adat dan keagamaan.
Meski baru pertama kali mengikuti festival kerajinan di Tabanan, keluarga Suarta telah menorehkan prestasi di tingkat nasional. Pada Festival Keris Nasional 2025 di Semarang, putranya berhasil membawa karya keluarga masuk dalam jajaran 10 besar terbaik.
"Saya berharap pemerintah Kabupaten Tabanan bersama panitia di acara seperti ini terus menyelenggarakan parade dan festival yang melibatkan para perajin tradisional," harap Suarta.
Menurut Suarta, kegiatan semacam ini tidak hanya membantu meningkatkan pemasaran hasil karya, tetapi juga menjadi langkah menjaga keberlangsungan warisan budaya Bali agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.