Kue leker menjadi salah satu jajanan lawas yang masih bisa dijumpai di pinggir jalan. Meski zaman terus berubah, jajanan tipis dan renyah ini masih diminati berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang lanjut usia.
Salah satunya kue leker milik Hanifa di Jalan Gaperta, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan. Hanifa mengatakan, usaha tersebut merupakan warisan keluarga yang diteruskannya dari sang kakek, kemudian ayahnya.
"Dulu kakek yang mulai usaha dari zaman dulu, dari kakek masih muda jualan ini, terus turun temurun gitu, jadi kita yang nerusin," kata Hanifa saat diwawancarai, Kamis (22/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut cerita yang didengarnya dari sang kakek, kue leker berasal dari Jawa. Hanifa menuturkan, dahulu banyak orang Belanda yang membeli jajanan tersebut.
"Leker ini sebenarnya dari Jawa. Cuman dulu yang beli kan banyak orang Belanda. Jadi orang Belanda bilang lekker-lekker. Leker itu enak artinya (dalam bahasa Belanda). Kakek sampe bisa bahasa luar, karena orang Belanda pada jajan," ujarnya.
Hanifa juga bercerita, sang kakek dahulu memasak leker menggunakan tungku dengan alat yang dioperasikan menggunakan kaki.
"Dulu masih pakai tungku, diinjak-injak pakai kaki alatnya. Sekarang kan diputar, dulu diinjak mesinnya," kata Hanifa.
Saat ini, Hanifa menggunakan kompor berbahan bakar gas LPG dan alat manual yang diputar menggunakan bor. Menurutnya, cara tersebut membuat proses memasak tidak lagi memerlukan gerakan menginjak alat seperti yang dilakukan pada zaman kakeknya.
Hanifa mengaku sudah berjualan kue leker sekitar delapan tahun. Sebelum menetap di pinggir jalan, ia sempat berjualan di sekolah-sekolah, tetapi memilih berjualan di pinggir jalan setelah pandemi COVID-19.
Menurut Hanifa, kue leker yang dijualnya memiliki keunikan tersendiri karena resep dan cara pembuatannya diwariskan turun-temurun. Ia juga menyebut kue tersebut sebagai jajanan legendaris yang kembali dikenal masyarakat.
"Dulu kan topingnya cuma gula, seres. Sekarang sudah ada keju, ada pisang, ada selai-selai gitu," ujarnya.
Seiring waktu, pilihan topping kue leker tersebut turut berkembang. Hanifa menyebut sejumlah varian yang pernah dibuatnya, mulai dari pisang, selai, kacang, marshmallow, hingga rasa balado dan telur. Saat ini, varian yang masih disediakan antara lain cokelat, oreo, dan keju.
Untuk menghasilkan leker yang renyah, Hanifa mengatakan pemilihan tepung menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Menurutnya, tepung berprotein sedang digunakan agar tekstur kue sesuai dengan yang diinginkan.
"Kalau protein rendah dia akan melempem lagi. Tapi kita harus protein sedang. Kalau protein tinggi dia cepat gosong," jelasnya.
Bagi Hanifa, kue leker bukan hanya jajanan untuk anak-anak. Ia mengaku pembelinya berasal dari berbagai kelompok usia, termasuk orang-orang yang mengenang leker sebagai jajanan saat masih bersekolah.
"Kadang sudah punya cucu bilang ini jajanan masih ada, tapi sudah susah nyarinya," tuturnya.
Meski pilihan jajanan semakin beragam, Hanifa tetap meneruskan usaha keluarga tersebut. Baginya, kue leker yang telah diwariskan dari generasi ke generasi menjadi usaha yang terus dijalankannya hingga sekarang.
Artikel ini ditulis oleh Muhammad Fikri Haikal Saragih, peserta Maganghub di detikcom.
