Berbekal pengalaman berjualan sejak usia 16 tahun, Dukut tak berhenti merintis usaha mi ayam hingga membawanya merantau dari Solo, Jawa Tengah, ke Kota Medan. Kini, di usianya yang menginjak 70 tahun, ia masih bertahan berjualan lewat Mie Ayam Jamur Pak Dhe yang telah dirintisnya di Medan sejak 1989.
Ia mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan formal namun, keterbatasan tersebut tidak menghalanginya untuk mencari penghidupan melalui usaha mie ayam.
Sebelum merantau ke Medan, Dukut lebih dahulu berjualan mie ayam di Solo. Setelah mendapat informasi dari teman bahwa mie ayam berpeluang laris di Medan, ia memutuskan merantau untuk memperluas pasar. Modal yang digunakannya untuk membuka usaha di Medan berasal dari hasil berjualan di Solo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya kepengin merantau jauh, dulu saya hanya berjualan mi ayam saja di Solo, namun di Medan jadi ramai dan lebih luas pasar di Medan untuk usaha saya" ujar Dukut kepada detikSumut, Selasa 20/10/2026.
Dukut mulai berjualan di Medan pada 1989. Saat itu, ia menjajakan mie ayam menggunakan gerobak di kawasan Kantor Pos, dekat Lapangan Merdeka. Ia berjualan di lokasi tersebut hingga 1991 sebelum pindah ke tempatnya sekarang di kawasan Jalan H Adam Malik, Medan.
Keputusan pindah diambil karena ia merasa tidak lagi sanggup membawa gerobak dan berjualan berpindah-pindah. Sejak itu, Dukut melanjutkan usahanya di satu lokasi. Ia mengatakan warungnya kemudian semakin ramai didatangi pembeli.
"Kalau aku mulai jualan tahun '89. Dulu di Kantor Pos sana, Lapangan Merdeka. Tahun '89 sampai '91. '91 terus pindah ke sini, karena udah ga sanggup lagi pergi bolak balik dari rumah ke sana" katanya.
Pada awal berjualan di Medan, Dukut hanya menjual mie ayam biasa dengan tambahan telur. Menu mie ayam jamur baru dikembangkannya sekitar tahun2000an. Ide itu muncul ketika ia mencoba menambahkan jamur ke dalam sajian mie ayamnya.
Dukut mengandalkan racikan bumbu buatannya sendiri untuk menyajikan mie ayam kepada pelanggan. Sementara itu, mie kuning yang dahulu pernah dibuatnya sendiri kini dibeli dari pemasok karena keterbatasan tenaga.
"Kalau bumbu-bumbu itu kan aku bikin sendiri, enggak beli dari pasar, racik racik sendiri saja, ternyata orang suka dan bilang enak" tuturnya.
Seiring waktu, menu yang ditawarkan semakin beragam. Selain mie ayam jamur, pelanggan juga bisa memesan mie ayam bakso, miayam telur, dan mi ayam komplit dengan tambahan telur serta bakso. Menurut Dukut, menu-menu tersebut termasuk yang banyak dipesan pembeli.
Warung Mie Ayam Pak Dhe juga memiliki daya tarik dari lokasinya yang berada di dekat rel kereta api. Kereta yang melintas kerap menarik perhatian pengunjung, bahkan menjadi latar video yang dibuat untuk konten media sosial.
Di usianya yang kini menginjak 70 tahun, Dukut masih menjalankan usaha tersebut dengan bantuan saudara-saudaranya. Ia tidak menggunakan karyawan dari luar keluarga. Warung Mie Ayam Pak Dhe buka setiap hari mulai pukul 14.00 hingga 22.00 WIB.
Dari Solo hingga Medan, perjalanan Dukut menunjukkan bagaimana usaha yang dirintis sejak muda terus berjalan selama puluhan tahun. Berawal dari gerobak sederhana, ia mempertahankan usahanya dengan mengandalkan pengalaman berjualan dan racikan bumbu sendiri hingga dikenal sebagai penjual mie ayam jamur di Medan.
Artikel ini ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom.
