detikers pernah beli manisan di Pasar Ramai Medan?, cemilan ringan di pasar legendaris ini punya kisah yang panjang. Konon, manisan ini dulunya cukup sering dibeli orang belanda yang datang ke Medan tempo dulu.
detikSumut mencoba menyambangi salah satu kios manisan yang sudah berjualan selama puluhan tahun di Pasar Ramai Medan. Kios Manisan Acai milik Aki ini masih tetap eksis berjualan berbagai manisan.
"Udah 40 tahun lebih toko ini ada, Pertama kali saudara saya namanya Juri baru saya lanjutkan," ungkap Aki, Selasa (29/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kios ini menjual belasan manisan warna-warni yang dijajakan menggunakan baskom kecil. Ada manisan mangga, salak, anggur, kedondong, kulit jeruk, cermai, ceri, hingga jelly.
Harganya pun bervariasi tergantung jenis manisannya. Contohnya manisan salak dijual Rp 80 ribu per kg, manisan mangga Rp 100 ribu per kg, maupun jelly dijual Rp 15 ribu per onsnya.
"Bisa campur-campur, paling sedikit Rp 20 ribu," tuturnya.
Tim detikSumut kemudian mencicipi sejumlah manisan, seperti manisan salak yang punya tekstur renyah saat digigit. Paduan rasa manis dan asam yang segar buat sulit berhenti mencicipi.
Berbeda dengan manisan mangga yang punya tekstur lembut dengan dominasi asam segar diikuti rasa manis dari air gula.
Nah, tapi ada manisan yang mencuri perhatian karena punya cita rasa unik seperti manisan kulit jeruk. Warna merah terlihat menggiurkan. Begitu digigit, rasa manis dan segar memenuhi mulut tanpa meninggalkan rasa pahit.
Berjualan selama puluhan tahun, Aki bercerita bahwa pelanggannya berasal dari berbagai kalangan terutama dalam acara keagamaan seperti momen Idul Fitri, Imlek, ataupun Natal. Bahkan, ia menyebut manisan juga dibeli orang Belanda tempo dulu saat berkunjung ke Medan.
"Pembelinya macam-macam untuk Lebaran, Imlek, Natal, bahkan ada juga orang-orang Belanda dulu beli manisan di sini kalau ke Medan. Ada juga yang beli untuk oleh-oleh," ucapnya.
Ia menyebut dulunya manisan ini hampir kebanyakan dibuat sendiri, namun seiring zaman, ia lebih banyak menjual manisan impor.
"Dulu ada yang kita buat sendiri kayak salak sama mangga, sekarang pun masih. Tapi kayak anggur, ceri itu kita impor lah tapi kita pilih yang bagus punya," pungkas Aki.
Selama puluhan tahun, Aki tetap setia berdagang manisan dengan menggunakan baskom-baskom kecil itu. Dari sana, ia tumbuh bersama dagangan manisan yang sudah akrab dengannya sejak kecil, menyaksikan pembeli datang silih berganti seiring zaman.
Camilan Masa Kecil
Cita rasa manisan di Pasar Ramai Medan ternyata juga menjadi cerita tersendiri bagi penikmatnya. Bagi sebagian orang, membeli manisan sudah menjadi tradisi sejak kecil.
Satu di antaranya ada Atik, warga Medan yang kini menetap di Pekanbaru, Riau. Meski sudah tinggal di luar kota, ia selalu menyinggahi membeli manisan apabila pulang kampung ke Medan.
"Kalau ke Medan pasti beli manisan di Pasar Ramai, ya karena dulu sering diajak sama orang tua. Jadi kebiasaan kalau mau Lebaran pasti beli di Pasar Ramai, beda dia rasanya kalau beli di tempat lain," ujar Atik.
Ia mengatakan terakhir kali membeli manisan di Pasar Ramai saat Lebaran. Menurutnya, cita rasa manisan tersebut masih tetap sama seperti yang ia cicipi sejak kecil.
"Terakhir makan pas Lebaran lah, rasanya tetap sama-sama enak. Mungkin nanti kalau datang ke Medan pasti ke sana lagi lah, emang udah tradisi dari saya kecil," pungkasnya.
Simak Video "Mengenal Makanan Tradisional Jambi, Lekat dengan Makna Gotong Royong"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
