Lebaran rasanya kurang lengkap kalau tidak ada ketupat dan opor ayam. Menu wajib ini sudah menjadi bagian penting dari tradisi Hari Raya di Indonesia sejak ratusan tahun lalu.
Bukan hanya sekedar makanan kekinian, sejarah menunjukkan bahwa campuran hidangan ini digunakan oleh Wali Songo sebagai cara untuk menyampaikan ajaran Islam melalui simbol-simbol yang berkaitan dengan makanan.
Dilansir dari detikFood, mari kita bahas makna filosofis dari "Ngaku Lepat" dan "Ngapura" yang membuat hidangan ini terasa begitu sakral setiap tahunnya.
Ketupat
Ketupat tidak hanya makanan yang terbuat dari beras, tetapi juga merupakan bagian dari sejarah yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai alat untuk menyampaikan ajaran Islam di tanah Jawa.
Secara etimologi, kata "Ketupat" atau "Kupat" dalam filosofi Jawa mengacu pada akronim Ngaku Lepat, yang berarti mengakui kesalahan, serta Laku Papat yang melambangkan empat tindakan pokok dalam kehidupan manusia.
Konsep Laku Papat ini mengajarkan pentingnya meningkatkan kualitas diri pada saat Lebaran, yaitu dengan menjaga ucapan tetap sopan, memperhatikan apa yang didengar agar tidak mempengaruhi hal negatif, memperbaiki cara berperilaku, serta membersihkan hati dari segala jenis dosa dan penyakit batin.
Tidak hanya itu, bungkus ketupat yang terbuat dari anyaman janur yang rumit adalah gambaran visual tentang perjalanan hidup manusia yang penuh naik turun, tantangan, dan kesalahan. Namun, ada makna yang indah saat kita memotong ketupat dan melepaskan kulit luarnya, yaitu melambangkan kekuatan berani melepaskan ego dan kesalahan masa lalu.
Kita siap menerima hal baru dengan hati yang bersih dan tulus, seperti butiran nasi yang membeku menjadi satu, membentuk ketupat yang putih sempurna.