Sejarah dan Filosofi Ketupat sebagai Simbol Lebaran, Bukan Sekadar Hidangan

Sejarah dan Filosofi Ketupat sebagai Simbol Lebaran, Bukan Sekadar Hidangan

Dwi Puspa Handayani Berutu - detikSumut
Selasa, 17 Mar 2026 22:00 WIB
Ketupat
Foto: Istimewa
Medan -

Opor ayam dan ketupat seakan menjadi menu wajib di setiap rumah orang Indonesia saat momen Hari Raya Idul Fitri. Namun, pernahkah detikers mempertanyakan mengapa ketupat menjadi lambang yang sangat terkait dengan Hari Raya Idul Fitri.

Ternyata, ketupat bukan hanya berkaitan dengan nikmatnya saat dinikmati bersama keluarga. Di balik tampilannya yang menarik, ada sejarah yang panjang serta filosofi kehidupan yang sangat mendalam yang tersimpan.

Dikutip dari buku Filosofi dan Sejarah Budaya serta Makanan Tradisional Nusantara oleh Dr. Saeful Kurniawan, M. Pd. I. Dalam tradisi komunitas Islam, khususnya di Jawa, ketupat atau kupat bukan hanya sekedar pengganti nasi. Penggunaan ketupat sebagai simbol perayaan lebaran diperkenalkan oleh para ulama zaman dahulu sebagai alat dakwah yang brilian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam bahasa, masyarakat Jawa memberi makna pada kata "Kupat" dengan sebuah pepatah bijak: "Kudu Eling Perkara Kang Papat". Artinya, kita sebagai manusia hendaknya selalu mengingat empat hal utama.

ADVERTISEMENT

Keempat hal ini berkaitan dengan sifat wajib Nabi Muhammad SAW yang harus dicontoh oleh umatnya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

· Shiddiq (Jujur): Menjadi pribadi yang benar dalam perkataan dan perbuatan.

· Amanah (Dapat Dipercaya): Menjaga tanggung jawab yang diberikan.

· Tabligh (Menyampaikan): Menyebarkan kebaikan dan kebenaran.

· Fathonah (Cerdas): Bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan hidup.

Dengan menghidangkan ketupat, kita diingatkan untuk kembali menanamkan empat sifat mulia tersebut di dalam diri setelah menjalani sebulan penuh berpuasa.

Melansir dari Journal of Ethnic Foods, ketupat juga digambarkan sebagai simbol permintaan maaf dan berkah. Setiap komponen pembentuk ketupat memiliki makna simbolis yang luar biasa:

· Beras (Lambang Nafsu): Beras di dalam ketupat dianggap sebagai representasi dari nafsu duniawi manusia.

· Janur atau Daun Kelapa Muda (Jatining Nur): Dalam bahasa Jawa, janur sering diartikan sebagai kependekan dari "Jatining Nur" yang berarti Cahaya Sejati. Ini melambangkan hati nurani manusia yang suci.

Secara visual, ketupat mencerminkan keadaan manusia: keinginan (beras) yang terbungkus rapat oleh nurani (janur). Ini berarti bahwa manusia yang sejati adalah mereka yang mampu menahan dan mengatur keinginan duniawi dengan tuntunan nurani dan cahaya Tuhan.

Jalinan ketupat yang rumit dan bersilangan juga melambangkan kesalahan-kesalahan manusia. Namun, ketika ketupat itu dibelah, bagian dalamnya yang bersih dan putih terlihat. Ini merupakan lambang dari hati yang kembali bersih dan suci setelah saling memaafkan di hari yang penuh kemenangan.

Oleh karena itu, ketupat sering kali hadir dalam momen-momen penting seperti Lebaran hingga tahlilan. Ia menjadi pengingat visual untuk kita agar tetap rendah hati, jujur, dan selalu mengedepankan nurani di atas hawa nafsu.

Menyantap ketupat di hari Lebaran bukan sekadar tentang kuliner, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan nenek moyang yang kaya akan nilai-nilai moral. Jadi, saat Anda memotong ketupat Lebaran nanti, ingatlah bahwa di dalamnya terdapat pesan untuk menjadi pribadi yang lebih jujur, dapat dipercaya, dan bijak.

Artikel ditulis Dwi Puspa Handayani peserta magang Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Mixagrip Greges Hadir di Kalbe Fit Stop Km 88B Tol Cipularang"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads