ASN Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nias inisial AL (27) nekat bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 12 Apartemen Skyview Medan. Kematian korban ternyata dipicu adanya pemerasan yang dilakukan oleh dua wanita yang dipesannya melalui aplikasi MiChat.
Proses dari korban diperas oleh kedua wanita malam itu hingga korban memutuskan untuk bunuh diri, sangat singkat. Polisi menyebut prosesnya hanya dalam waktu tiga menit.
"Jadi, prosesnya mulai dari minta Rp 4.500.000, mendesak, memeras, itu cepat prosesnya, sekitar 3 menit," kata Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Adrian Risky Lubis saat konferensi pers, Rabu (15/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, apa yang mendorong korban untuk memutuskan bunuh diri dalam kurun waktu yang sangat singkat itu?
Psikolog forensik Irna Minauli menjelaskan bahwa pada kasus bunuh diri, ada beberapa faktor yang membuat seseorang nekat untuk mengakhiri hidupnya. Salah satunya, saat seseorang merasa terpojok dan tidak melihat adanya jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Situasi ini kemudian membuat korban merasa putus asa.
"Intimidasi, ancaman, atau rasa malu dapat memicu accute stress reaction (reaksi stres akut). Korban merasa tidak ada jalan keluar lain selain mengakhiri hidupnya. Intimidasi juga menimbulkan perasaan terjebak, tidak berdaya, dan kehilangan kendali," kata Irna saat dikonfirmasi detikSumut, Jumat (17/7).
Irna Minauli menyebut kondisi korban yang merasa tidak memiliki pilihan lain selain bunuh diri, dapat mendorong perilaku impulsif atau bertindak secara cepat tanpa memikirkan konsekuensinya.
"Sifat impulsif ini juga yang mendorong seseorang ingin segera memperoleh pemuasan, sehingga melakukan transaksi melalui aplikasi MiChat. Mereka sering tidak mempedulikan akibat dari perbuatannya. Kecenderungan untuk bertindak cepat tanpa perencanaan panjang seringkali menimbulkan masalah besar," jelasnya.
"Jika ditemukan adanya penggunaan alkohol atau narkoba, serta indikasi kelelahan mental dapat menurunkan kemampuan seseorang untuk berpikir secara rasional. Sistem saraf ketika berada dalam kondisi stres tinggi membuat seseorang lebih rentan untuk mengambil keputusan ekstrem," sambung Irna.
Selain karena adanya intimidasi, kata Irna, hal lain yang mendorong seseorang untuk bunuh diri karena adanya kesempatan atau akses yang mendukung untuk bunuh diri. Jika dalam kasus AL, korban posisinya berada di gedung apartemen yang tinggi.
"Lokasi seperti apartemen tinggi menjadi trigger lingkungan yang seolah menyediakan 'cara' yang langsung untuk segera bertindak. Efek 'tunnel vision' membuat korban hanya melihat satu jalan keluar, yaitu bunuh diri, tanpa sempat mempertimbangkan alternatif. Itu sebabnya keputusan untuk melakukan bunuh diri dilakukan secara cepat tanpa perlu perencanaan seperti pada kebanyakan kasus bunuh diri. Korban tidak sempat mencari bantuan atau dukungan segera dari teman, keluarga, atau konselor yang bisa dihubungi," pungkasnya.
