Mengenal Tandok, Wadah Anyaman Khas Batak Toba

Mengenal Tandok, Wadah Anyaman Khas Batak Toba

Devi Silaban - detikSumut
Sabtu, 24 Okt 2026 08:30 WIB
Tradisi Mangghuti Tandok
Foto: Tradisi Mangghuti Tandok (Instagram/naposonihkbp)
Medan -

Kalian pernah enggak melihat perempuan Batak membawa wadah anyaman berisi beras di atas kepala saat menghadiri pesta adat? Benda tersebut dikenal dengan nama tandok. Bentuknya mungkin terlihat sederhana, tetapi tandok memiliki fungsi dan makna tersendiri dalam kehidupan masyarakat Batak Toba.

Tandok merupakan wadah tradisional masyarakat Batak Toba yang umumnya terbuat dari anyaman daun pandan atau bayon. Bentuknya menyerupai wadah memanjang dengan bagian atas terbuka sehingga bisa digunakan untuk membawa berbagai bahan, terutama beras dan padi.

Ukuran tandok cukup beragam, mulai dari kapasitas 2 liter, 3 liter, 5 liter, hingga 10 liter. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis upacara adat yang dihadiri. Bentuknya yang melebar di bagian atas dan mengecil di bagian bawah juga menjadi ciri khas wadah tradisional ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apa sebenarnya tandok itu? Dari mana asalnya, bagaimana cara membuatnya, dan mengapa benda ini sering terlihat dalam upacara adat?
Dari Hasil Panen hingga Hantaran Adat

Pada masa lalu, tandok digunakan untuk membawa hasil panen dari sawah ke rumah serta menyimpan kebutuhan sehari-hari. Seiring penggunaannya dalam kehidupan masyarakat, tandok juga menjadi bagian dari hantaran dalam upacara adat Batak Toba.

ADVERTISEMENT

Dibawa dengan Cara Dijunjung

Salah satu hal yang menarik dari tandok adalah cara membawanya. Dalam upacara adat, perempuan Batak Toba biasanya menjunjung tandok di atas kepala, bahkan membawanya sambil menari sebelum menyerahkannya kepada pihak yang dituju. Tradisi ini menjadi salah satu pemandangan khas dalam rangkaian acara adat.

Bukan Sekadar Wadah Beras

Tandok juga memiliki makna simbolis dalam kehidupan masyarakat Batak Toba. Dalam skripsi Tandok Do Boru, Desthree Elisabeth Manurung menjelaskan tandok sebagai simbol ruang kehidupan karena berisi bahan pangan yang menopang kehidupan manusia. Bentuknya yang mampu menampung dan melindungi juga dimaknai sebagai simbol rahim perempuan.

Berkaitan Erat dengan Perempuan Batak Toba

Perempuan memiliki hubungan erat dengan penggunaan tandok dalam tradisi adat. Mereka berperan membawa dan menyerahkan tandok sebagai bagian dari prosesi adat. Dalam pemaknaan yang diangkat Manurung, tandok juga merepresentasikan ketekunan, kekuatan, martabat, dan peran perempuan dalam menjaga keberlangsungan keluarga serta budaya.

Simbol Syukur dan Penghormatan

Ketika tandok dibawa dan diserahkan dalam upacara adat, tindakan tersebut dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas berkat yang diterima serta penghargaan terhadap hasil pemberian Tuhan. Karena itu, tandok bukan hanya wadah untuk membawa beras, tetapi juga bagian dari tradisi yang menyimpan nilai budaya dan spiritual masyarakat Batak Toba.

Keberadaan tandok memperlihatkan bagaimana benda sederhana dapat memiliki arti yang lebih luas daripada fungsi sehari-harinya. Melalui bentuk, cara penggunaan, dan kehadirannya dalam upacara adat, tandok menjadi salah satu warisan budaya Batak Toba yang menarik untuk dikenal dan dilestarikan generasi muda.

Artikel ini ditulis Devi Silaban, mahasiswa Unimed Praktik Kerja Lapangan di detikSumut.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads