Raja Siantar, Sang Naualuh Damanik, disebut menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan Islam di Simalungun pada awal abad ke-20. Hal itu disampaikan penulis dan akademisi Erond L. Damanik saat menjelaskan sejarah perkembangan Islam di wilayah Kerajaan Siantar.
Menurut Erond, Islam sebenarnya sudah berkembang di daerah Bandar sejak 1886. Saat itu, ekspansi perkebunan kolonial mulai masuk ke wilayah Simalungun, termasuk Bandar. Di masa tersebut, Belanda berupaya membujuk Sang Naualuh agar menyerahkan tanah untuk kepentingan konsesi perkebunan.
"Pada saat itu, Belanda mencoba membujuk Sang Naualuh bernegosiasi atas tanah-tanah yang akan dikonsesikan serta jasa material yang bakal diperoleh. Namun, Sang Naualuh menolaknya," ujar Erond.
Penolakan itu membuat hubungan Sang Naualuh dengan Belanda semakin memanas. Erond menjelaskan keputusan Sang Naualuh memeluk Islam pada 1902 menjadi bentuk perlawanan terhadap pemerintah kolonial.
"Faktor utamanya adalah desakan pemerintah kolonial yang memaksanya menyewakan tanah. Dengan menganut Islam, itu adalah perlawanan nyata Sang Naualuh terhadap Belanda," katanya.
Akibat pilihannya itu, Sang Naualuh ditangkap, dimakzulkan sebagai Raja Siantar, lalu diasingkan ke Bengkalis hingga wafat pada 1913 di usia 44 tahun.
Meski demikian, Erond menilai peran Sang Naualuh dalam penyebaran Islam di Siantar dan Simalungun tidak terlalu besar karena masa kepemimpinannya setelah memeluk Islam cukup singkat.
"Dalam perkembangannya di Siantar dan Simalungun, peran Sang Naualuh menyebarkan Islam tidak begitu terlihat. Sebab masa kepemimpinan Islamnya cukup singkat, hanya sekitar dua tahun," jelasnya.
Namun selama masa pengasingannya di Bengkalis, Sang Naualuh dikenal sebagai guru agama Islam dan pendakwah. Hal itu dibuktikan dengan adanya pondok pesantren serta masjid yang didedikasikan atas namanya.
Erond juga menjelaskan perkembangan Islam di wilayah Bandar, Dolog Marlawan, dan Gunung Malela sebenarnya telah berlangsung sebelum era Sang Naualuh. Islam masuk melalui jalur perdagangan antara pedagang asing dengan masyarakat Simalungun pribumi.
"Islam di ketiga wilayah itu masuk melalui proses perniagaan antara pedagang asing dengan penduduk Simalungun pribumi," ujarnya.
Selain itu, ia menegaskan tidak terjadi konflik internal ketika Islam berkembang di wilayah Kerajaan Siantar. Menurutnya, masyarakat Simalungun saat itu masih memegang agama asli Habonaron dan tidak menjadikan agama sebagai sumber pertentangan sosial.
"Ketika Sang Naualuh menganut Islam, tidak ada konflik internal di Siantar bahkan di lima distrik kerajaan," kata Erond.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di detikcom.
Simak Video "Video Kisah Masjid Tertua di Bandung, Mungsolkanas"
(afb/afb)