Bagi sebagian besar masyarakat, kematian adalah akhir yang identik dengan duka. Namun dalam tradisi Batak, ada satu bentuk kematian yang dimaknai berbeda Saur Matua, sebuah fase yang justru dipandang sebagai puncak kehidupan.
Dosen Antropolog USU, Rytha Tambunan, menyebut Saur Matua bukan sekadar kematian biasa. Ia adalah kondisi ketika seseorang meninggal dalam keadaan "lengkap" secara sosial dan kultural.
"Kematian buat orang Batak yang Saur Matua itu bukan duka cita, tapi suka cita," ujarnya.
Apa Itu Saur Matua?
Secara sederhana, saur matua adalah status kematian seseorang yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu dalam kehidupan Batak.
Syarat utamanya bukan usia, melainkan capaian hidup:
• Memiliki anak (laki-laki dan perempuan)
• Anak-anaknya telah menikah
• Bahkan sudah memiliki cucu
Dalam kondisi ini, seseorang dianggap telah menyelesaikan seluruh siklus kehidupan.
"Artinya orang Batak itu sudah punya keturunan. Hagabeon," jelas Rytha Tambunan.
Bagian dari Siklus Hidup
Dalam budaya Batak, kehidupan dilihat sebagai rangkaian tahapan yang saling terhubung dari sebelum lahir hingga kematian.
Setiap fase ditandai dengan ritual, termasuk pemberian ulos.
"Dari tujuh bulan sudah diulosin, supaya sehat, supaya nanti melahirkan sehat. Waktu lahir, waktu dikasih nama, semua diiringi ulos," jelasnya.
Semua tahapan ini mengarah pada satu tujuan: kehidupan yang utuh hingga akhir.
"Itulah terakhir life cycle orang Batak. Kematian," ujarnya.
Simak Video "Video LPSK Ungkap Ayah Nizam Anggota Geng"
(astj/astj)