Gondang: Nada Sakral yang Menjaga Denyut Sosial Masyarakat Batak

Gondang: Nada Sakral yang Menjaga Denyut Sosial Masyarakat Batak

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Sabtu, 28 Mar 2026 06:00 WIB
Gondang Batak
Foto: Gondang Batak (Instagram @rumahgondangta)
Medan -

Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, musik tradisional seperti gondang tetap bertahan sebagai salah satu pilar penting dalam kehidupan masyarakat Batak. Lebih dari sekadar hiburan, gondang memiliki peran sakral dan sosial yang mengikat nilai-nilai budaya, adat, hingga identitas kolektif.

Gondang yang merujuk pada ensambel musik tradisional Batak Toba biasanya dimainkan dalam berbagai upacara adat seperti pernikahan (ulaon unjuk), kematian (ulaon saur matua), hingga ritual keagamaan. Instrumen utamanya terdiri dari taganing, gordang, ogung, dan sarune, yang dimainkan secara terpadu untuk menghasilkan irama khas yang penuh makna.

Dalam kajian etnomusikologi, gondang tidak bisa dilepaskan dari struktur sosial masyarakat Batak. Peneliti musik tradisional, Mauly Purba, menyebut bahwa gondang adalah media komunikasi simbolik antara manusia dengan leluhur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Gondang bukan sekadar bunyi, tetapi representasi doa dan harapan yang disampaikan melalui ritme dan struktur musikal yang telah diwariskan turun-temurun," tulis Mauly Purba dalam kajiannya tentang musik Batak.

Hal ini menunjukkan bahwa setiap tabuhan gondang memiliki makna tersendiri. Bahkan dalam praktiknya, tidak sembarang gondang boleh dimainkan tanpa konteks adat yang jelas. Ada aturan, urutan, dan permintaan khusus yang harus disampaikan oleh pihak penyelenggara acara kepada pemain gondang (pargonsi).

ADVERTISEMENT

Selain fungsi sakral, gondang juga berperan sebagai alat pemersatu sosial. Dalam buku Adat dan Budaya Batak Toba, J.C. Vergouwen menjelaskan bahwa gondang menjadi medium penting dalam memperkuat hubungan kekerabatan.

"Melalui gondang, relasi sosial dalam sistem dalihan na tolu diperkuat, karena setiap pihak memiliki peran yang diatur secara adat dalam setiap upacara," tulis Vergouwen.

Konsep dalihan na tolu-yang mengatur hubungan antara hula-hula, dongan tubu, dan boru-menjadi landasan utama dalam setiap acara adat. Gondang hadir sebagai pengiring sekaligus penegas struktur tersebut, di mana setiap kelompok memiliki momen dan posisi tersendiri dalam tarian (tortor) yang diiringi gondang.

Tak hanya itu, gondang juga berfungsi sebagai sarana ekspresi kolektif. Dalam jurnal Music and Ritual in Toba Batak Society, disebutkan bahwa gondang memungkinkan masyarakat mengekspresikan emosi secara bersama-sama, baik dalam suasana sukacita maupun duka.

"Partisipasi dalam gondang menciptakan ruang emosional bersama, di mana individu menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang lebih besar," tulis peneliti dalam jurnal tersebut.

Di era kini, tantangan terbesar gondang adalah menjaga relevansinya di tengah generasi muda. Meski begitu, sejumlah komunitas dan seniman terus berupaya melestarikan gondang melalui festival budaya, pendidikan musik tradisional, hingga kolaborasi dengan musik modern.

Gondang bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat menjaga identitasnya di masa kini dan masa depan. Di setiap denting ogung dan tabuhan taganing, tersimpan nilai-nilai yang terus hidup-menghubungkan manusia, adat, dan leluhur dalam satu harmoni yang tak lekang oleh waktu.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads