Tradisi Mangulosi, Simbol Kasih dalam Siklus Hidup Masyarakat Batak

Tradisi Mangulosi, Simbol Kasih dalam Siklus Hidup Masyarakat Batak

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Sabtu, 28 Mar 2026 07:30 WIB
Ilustrasi tradisi mangulosi dalam budaya Batak
Foto: Ilustrasi tradisi mangulosi dalam budaya Batak (Dok. Gemini AI)
Medan -

Tradisi mangulosi dalam masyarakat Batak tidak hanya hadir dalam satu peristiwa adat, tetapi menyertai seluruh perjalanan hidup manusia, mulai dari kelahiran hingga kematian.

Ulos sebagai simbol budaya diberikan dalam berbagai tahapan kehidupan, mulai dari pemberian nama, pernikahan, hingga prosesi kematian, terutama dalam kondisi saur matua, yakni ketika seseorang meninggal dalam keadaan telah memiliki keturunan lengkap.

Rytha Tambunan menjelaskan bahwa tradisi mangulosi tetap bertahan karena memiliki makna yang kuat dalam hubungan kekerabatan masyarakat Batak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pakai ulos tetap ada, terutama dalam pernikahan," ujar Antropolog dari USU itu.

Menurutnya, pemberian ulos tidak sekadar menjadi bagian dari seremoni adat, melainkan bentuk nyata dari perhatian antaranggota keluarga.

ADVERTISEMENT

"Pemberian ulos itu bentuk perhatian dalam hubungan kekerabatan," jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa mangulosi memiliki makna emosional yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Batak.

"Mangulosi itu simbol kasih sayang," tambahnya.

Dalam praktiknya, tradisi mangulosi tidak dapat dipisahkan dari sistem sosial yang dikenal sebagai Dalihan Na Tolu. Setiap pemberian ulos dilakukan berdasarkan peran dalam struktur kekerabatan tersebut.

Pihak hula-hula, sebagai pemberi perempuan, memiliki posisi penting dalam memberikan ulos sebagai bentuk restu dan penghormatan. Sementara itu, pihak boru menerima ulos sebagai bagian dari hubungan timbal balik dalam adat.

Menurut Rytha, keberlangsungan tradisi ini menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya Batak tetap hidup dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Tradisi mangulosi pun menjadi bagian dari siklus hidup masyarakat Batak yang tidak terpisahkan, sekaligus memperkuat hubungan sosial antar keluarga dalam setiap fase kehidupan.

Dengan demikian, mangulosi tidak hanya menjadi simbol adat, tetapi juga representasi kasih sayang yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads