Pustaha laklak merupakan kitab kuno masyarakat Batak Toba yang berfungsi sebagai media pencatatan pengetahuan tradisional. Naskah ini menjadi bukti bahwa masyarakat Batak telah mengenal tradisi tulis dan sistem pendidikan lokal jauh sebelum hadirnya pengaruh Barat.
Dalam kajian akademik berjudul Pustaha: A Study into the Production Process of the Batak Book yang dimuat jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, peneliti René Teygeler menjelaskan bahwa pustaha adalah kitab rujukan yang digunakan oleh datu, tokoh adat yang berperan sebagai pemimpin ritual sekaligus penjaga ilmu.
"Pustaha merupakan buku rujukan yang digunakan oleh datu dan berfungsi sebagai pedoman ritual, peramalan, serta pengobatan," tulis René Teygeler (1993).
Menurut Teygeler, pustaha laklak tidak ditujukan untuk dibaca oleh masyarakat umum. Kitab ini bersifat terbatas dan digunakan dalam proses pembelajaran calon datu.
"Isi pustaha tidak dimaksudkan untuk konsumsi umum, melainkan sebagai sarana pendidikan bagi calon datu," jelasnya.
Bentuk Fisik dari Kulit Kayu
Secara fisik, pustaha laklak dibuat dari kulit kayu, terutama kulit kayu alim. Kulit kayu tersebut diolah hingga menjadi lembaran tipis namun kuat, kemudian dilipat memanjang menyerupai akordeon.
"Hampir seluruh pustaha ditulis di atas kulit kayu dan dilipat memanjang seperti akordeon," tulis Teygeler.
Pada bagian luar, pustaha biasanya dilengkapi papan kayu sebagai sampul pelindung. Bentuk ini dipilih agar naskah lebih tahan lama dan mudah dibawa oleh datu yang kerap berpindah tempat.
Ditulis dengan Aksara Batak
Isi pustaha ditulis menggunakan aksara Batak, sistem tulisan tradisional yang berbeda dengan aksara Latin. Penulisan dilakukan tanpa spasi antar kata, sehingga hanya orang yang memahami aksara Batak yang mampu membacanya dengan baik.
Kajian filologi yang dilakukan P. Voorhoeve menyebut aksara Batak sebagai bagian dari tradisi literasi lokal yang berkembang secara mandiri.
"Aksara Batak merupakan tradisi tulisan asli yang telah ada jauh sebelum pendidikan Barat diperkenalkan," tulis P. Voorhoeve dalam kajiannya.
Dalam konteks pustaha, aksara Batak tidak hanya berfungsi sebagai alat tulis, tetapi juga sebagai sistem simbol yang berkaitan dengan isi ritual dan pengobatan yang dicatat.
Isi dan Fungsi Pustaha
Teygeler mencatat bahwa isi pustaha sangat beragam. Di dalamnya terdapat catatan pengobatan tradisional, perhitungan hari baik dan buruk, ramalan, serta panduan ritual adat.
"Pustaha memuat resep pengobatan, tabel peramalan, serta petunjuk ritual," tulis Teygeler.
Setiap pustaha memiliki karakter yang berbeda.
"Tidak ada dua pustaha yang benar-benar sama," tegas Teygeler, karena isi kitab sangat bergantung pada pengalaman dan keahlian datu yang menyusunnya.
Pustaha dan Otoritas Datu
Antropolog J.C. Vergouwen menekankan bahwa pustaha memiliki peran penting dalam struktur sosial Batak Toba.
"Seorang datu memperoleh otoritas dari penguasaan pengetahuan ritual dan tradisi tulis," tulis Vergouwen.
Dengan demikian, pustaha tidak hanya berfungsi sebagai buku, tetapi juga sebagai simbol legitimasi dan kewibawaan seorang datu di tengah masyarakat.
Jejak Sejarah dan Kolonialisme
Seiring masuknya kolonialisme dan misi keagamaan, penggunaan pustaha perlahan berkurang. Banyak naskah kemudian dikumpulkan dan dibawa ke luar negeri.
"Sejumlah besar manuskrip Batak dikoleksi dan dibawa ke Eropa pada masa kolonial," catat Teygeler.
Kini, pustaha laklak tersimpan di berbagai museum dan perpustakaan, baik di Indonesia maupun luar negeri. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa masyarakat Batak Toba telah memiliki sistem pengetahuan, pendidikan, dan literasi yang mapan jauh sebelum kolonialisme.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis peserta maganghub Kemnaker di detikSumut.
Simak Video "Video: Al Hilal Libas Al Taawoun 6-0, Gabriel Martinelli Cetak Hattrick"
(afb/afb)