Budaya Melayu dikenal kaya akan simbol dan filosofi, salah satunya tercermin dari penggunaan tiga warna khas yang sarat makna. Warna-warna ini bukan sekadar unsur estetika, melainkan melambangkan nilai kehidupan, adat, dan pandangan hidup masyarakat Melayu yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sekretaris Prodi Sastra Melayu Universitas Sumatera Utara (USU), Arie Azhari Nasution, S.S., M.A., menjelaskan filosofis dari ketiga warna tersebut. Ia menyebut warna kuning melambangkan kebesaran dan kemuliaan, hijau bermakna kemakmuran dan kesuburan, serta merah sebagai simbol keberanian dan pantang menyerah.
"Warna kuning biasa dipakai oleh Raja Melayu dan yang menjadi warna tertinggi yang melambangkan daulat, kebesaran, dan kemuliaan. Yang kedua ada warna hijau yang biasa dipakai pemuka agama dan biasa mengidentitaskan melayu sebagai pemeluk agama islam. Dan bermakna ketaatan beragama, kemakmuran dan juga kesuburan. Yang ketiga ada warna merah sebagai simbol keberanian dan pantang menyerah bagi masyarakat melayu. Biasa dipakai oleh panglima ataupun rakyat," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga warna ini sering digunakan dalam praktik adat dan momen-momen tertentu. Di antaranya pesta perkawinan yang biasanya didominasi warna kuning dan merah. Kuning biasa dipakai pada pelaminan Melayu (kuning emas).
Momen lainnya adalah acara adat yang dilakukan di lingkungan istana juga memakai warna dominan kuning. Saat penabalan sultan atau bangsawan biasanya mereka mengenakan jubah dan payung kuning, serta singgasana yang dilapisi kain kuning.
Berikutnya, momen penyambutan tamu (tari persembahan). Biasanya ketiga warna tersebut dipadukan. Secara simbolik, perpaduan warna ini menandakan keterbukaan dan keramahtamahan.
Kata Arie, warna kuning, merah, dan hijau melambangkan bahwa Melayu dituntut memiliki keseimbangan dalam hidup.
"Kesimpulannya, ketiga warna ini melambangkan bahwa orang melayu dituntut memiliki 'keseimbangan' dalam hidup yang harus berani (warna merah) namun tetap taat dan tunduk pada agama (hijau) guna mendapatkan kemuliaan (kuning)," tutupnya.
Artikel ditulis Siti Asyaroh peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom
(astj/astj)











































