Di balik adat dan kehidupan masyarakat Batak Toba, tersimpan kisah-kisah mitologis yang menjelaskan asal-usul dunia, manusia, dan tatanan kosmos. Mitologi Batak Toba bukan sekadar cerita rakyat, melainkan sistem pengetahuan yang membentuk cara pandang leluhur Batak terhadap alam dan kehidupan.
Salah satu kisah paling penting dalam mitologi Batak Toba adalah cerita tentang Mulajadi Nabolon, sosok pencipta tertinggi yang dipercaya sebagai asal mula segala kehidupan. Dalam kepercayaan tradisional Batak, Mulajadi Nabolon bersemayam di Banua Ginjang atau dunia atas.
Antropolog J.C. Vergouwen menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap Mulajadi Nabolon menjadi pusat kosmologi Batak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mulajadi Nabolon dipahami sebagai sumber kekuatan kosmis yang mengatur keseimbangan alam dan kehidupan manusia," tulis Vergouwen dalam kajiannya tentang masyarakat Batak Toba.
Baca juga: Jejak Porhalaan, Kalender Kuno Batak Toba |
Tiga Dunia dalam Mitologi Batak
Mitologi Batak Toba mengenal pembagian alam semesta menjadi tiga lapisan: Banua Ginjang (dunia atas), Banua Tonga (dunia tengah), dan Banua Toru (dunia bawah). Dunia tengah merupakan tempat manusia hidup, sementara dunia atas dan bawah dihuni oleh kekuatan adikodrati dan roh.
Pembagian ini tidak hanya hadir dalam cerita, tetapi juga tercermin dalam ritual, simbol, dan tata ruang kampung Batak.
Filolog Uli Kozok dalam bukunya Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak menyebutkan bahwa konsep tiga dunia ini banyak ditemukan dalam pustaha laklak.
"Naskah Batak memuat pandangan kosmologis yang kompleks, termasuk pembagian dunia dan peran makhluk adikodrati," tulis Kozok.
Si Boru Deak Parujar dan Asal-usul Manusia
Kisah penting lainnya adalah cerita tentang Si Boru Deak Parujar, putri Mulajadi Nabolon, yang diturunkan ke dunia tengah untuk menciptakan kehidupan manusia. Dalam mitologi Batak, ia digambarkan sebagai tokoh perempuan yang berperan besar dalam proses penciptaan bumi dan manusia.
Cerita ini menjadikan perempuan memiliki posisi simbolik penting dalam mitologi Batak, sebagai sumber kehidupan dan keseimbangan kosmis.
Para peneliti mencatat bahwa mitos ini bukan sekadar dongeng, melainkan dasar nilai sosial.
"Mitologi penciptaan memberi legitimasi pada tatanan sosial dan hubungan manusia dengan alam," tulis Vergouwen.
Kisah-kisah mitologi Batak diwariskan secara lisan dan tertulis melalui pustaha. Penjaga dan penafsir cerita ini adalah datu atau parbaringin, tokoh adat yang memiliki pengetahuan mendalam tentang mitologi, ritual, dan penanggalan.
Mitologi Batak Toba menjadi jendela untuk memahami cara leluhur Batak membaca alam semesta bahwa manusia bukan penguasa tunggal, melainkan bagian dari tatanan kosmis yang harus dijaga keseimbangannya.
Artikel ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Serunya Bertualang Bersama Pinokio di Trans Studio Cibubur"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)











































