Jejak Porhalaan, Kalender Kuno Batak Toba

Jejak Porhalaan, Kalender Kuno Batak Toba

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Selasa, 03 Feb 2026 09:00 WIB
Jejak Porhalaan, Kalender Kuno Batak Toba
Foto: Kalender kuno Batak Porhalaan (Foto: koleksi museum nationaal museum van wereldculturen)
Medan -

Jauh sebelum kalender Masehi digunakan secara luas, masyarakat Batak Toba telah mengenal sistem penanggalan sendiri yang disebut Porhalaan. Kalender ini tidak sekadar penanda hari, melainkan alat penting untuk mengatur ritual adat, pertanian, hingga pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Porhalaan biasanya tercatat dalam pustaha laklak, naskah tradisional Batak yang ditulis di atas kulit kayu. Di dalamnya termuat perhitungan hari baik dan buruk, penentuan waktu ritual, hingga pertanda kosmologis yang diyakini berpengaruh terhadap kehidupan manusia.

Filolog Jerman, P. Voorhoeve, dalam kajiannya tentang naskah Batak menjelaskan bahwa Porhalaan merupakan bagian inti dari pengetahuan tradisional Batak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalender Batak tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan sistem kepercayaan dan praktik ritual masyarakatnya," tulis Voorhoeve dalam penelitiannya tentang pustaha Batak.

Sistem Waktu Lokal

Porhalaan mengenal pembagian waktu berdasarkan siklus tertentu yang berbeda dengan kalender modern. Perhitungan hari didasarkan pada kombinasi tanda-tanda kosmis, simbol, dan pengetahuan turun-temurun yang dikuasai oleh datu atau parbaringin-tokoh adat yang memiliki otoritas spiritual.

ADVERTISEMENT

Dalam buku Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, filolog Uli Kozok menjelaskan bahwa Porhalaan bukan sekadar kalender, melainkan sistem pengetahuan.

"Porhalaan berfungsi sebagai pedoman waktu sekaligus panduan ritual yang menentukan kapan suatu tindakan dianggap tepat atau berbahaya," tulis Kozok.

Kalender ini digunakan untuk menentukan waktu membuka ladang, menggelar pesta adat, melakukan perjalanan jauh, hingga pelaksanaan ritual penyembuhan.

Penjaga Pengetahuan

Tidak semua orang dapat membaca dan menggunakan Porhalaan. Pengetahuan ini dikuasai oleh datu atau parbaringin yang mempelajari pustaha secara khusus. Mereka bertindak sebagai penafsir waktu dan peristiwa.

Antropolog J.C. Vergouwen mencatat bahwa keputusan yang diambil berdasarkan Porhalaan memiliki legitimasi adat yang kuat.

"Penentuan hari baik dan buruk melalui kalender adat dipercaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia leluhur," tulis Vergouwen dalam studinya tentang masyarakat Batak Toba.

Bertahan di Tengah Perubahan

Masuknya agama-agama besar dan sistem kalender modern membuat penggunaan Porhalaan perlahan berkurang. Namun, jejaknya tidak sepenuhnya hilang. Hingga kini, sebagian masyarakat Batak masih merujuk pada perhitungan adat dalam upacara tertentu, terutama yang berkaitan dengan ritual tradisional.

Bagi para peneliti, porhalaan menjadi bukti bahwa masyarakat Batak telah memiliki sistem pengelolaan waktu yang kompleks jauh sebelum pengaruh luar datang. Kalender ini memperlihatkan cara pandang lokal terhadap alam semesta dan kehidupan sosial.

Porhalaan bukan sekadar catatan hari, melainkan cermin pengetahuan dan kebijaksanaan tradisional yang diwariskan lintas generasi.


Artikel ditulis A Fahri Perdana Lubis, peserta maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Fadli Zon Ingin Tempe-Dangdut Masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads