Imlek 2023: Sejarah, Makna, dan Tradisi di Indonesia

Raja Malo Sinaga - detikSumut
Selasa, 17 Jan 2023 08:00 WIB
Foto: Shutterstock
Medan -

Sebagai salah satu hari besar di masyarakat Tionghoa, Imlek atau tahun baru Cina pastinya sangat meriah dirayakan. Begitu juga dengan Imlek di tahun 2023 ini dalam kondisi yang sudah tidak lagi berada di tengah parahnya pandemi virus Corona seperti beberapa tahun sebelumnya.

Pada dasarnya, Imlek selalu ditentukan melalui penanggalan Cina yang berdasarkan peredaran bulan. Menurut penanggalan masehi, Imlek 2023 jatuh pada tanggal 22 Januari 2023.

Dalam sejarahnya yang panjang, Imlek pastinya memiliki cerita yang menarik untuk diulas. Berikut ini detikSumut hadirkan serba-serbi Imlek 2023 terkait sejarah, makna, dan tradisi di Indonesia.

Pengertian Imlek

Dalam SKB 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2023, Imlek 2023 disebut dengan Tahun Baru Imlek 2574 Kongzili. Apa maksud penyebutan Kongzili?

Dari hasil lansiran detikSumut terhadap artikel Js Liem Liliany Lontoh yang dimuat di FKUB DKI Jakarta, penamaan tahun baru Imlek 2023 sebagai Kongzili lantaran kalender Imlek/Yinli mengacu pada tahun kelahiran Nabi Kongzi yang terjadi pada 551 SM.

Dari hal tersebut, diambil kesimpulan penyebutan tahun baru Imlek 2023 bisa disebut sebagai Tahun Baru Imlek 2574 Kongzili lantaran tahun 2023 apabila dijumlahkan dengan 551 akan mendapatkan total 2574.

Selain itu, Js Liem menerangkan dalam tulisannya bahwa kalender Imlek diciptakan oleh salah satu Nabi yang dimuliakan dalam agama Khonghucu dan dijadikan sebagai bapak moyang orang Tionghoa, Huang Di.

Namun pada dasarnya, penanggalan yang dilakukan diciptakan untuk memenuhi penentuan jatuhnya musim, peraturan baru saat beribadah, dan menghitung kapa terjadinya bulan baru. Hal tersebut juga yang menjadi pendorong saat imlek sarat akan bersembahyang dan bersyukur kepada Tuhan yang disebut Tian atau Shang Di. Kalender Huang Di ini menghitung awal tahun barunya pada awal musim semi.

Sejarah Imlek

Kalender Huang Di menjadi pedoman di era dinasti Xia (2205 - 1766 SM). Setelah dinasti berganti dari dinasti Xia ke dinasti Shang (1766 - 1122 SM), ada pemajuan sebulan dalam tahun baru.

Hal tersebut juga berlaku ketika dinasti Shang runtuh dan diganti dinasti Zhou (1122 - 255 SM), awal tahun barunya dimajukan lagi, menjadi tanggal 22 Desember (atau 21 Desember pada tahun Kabisat), tepat di saat Matahari di atas 23,5° Lintang Selatan.

Namun dalam perkembangannya, Confucius, filsuf terkenal yang berasal dari Cina, ditanya muridnya terkait pemerintahan yang baik dan Confucius menjawab bahwa kalender pada dinasti Xia adalah yang paling tepat sebagai pedoman bercocok tanam lantaran pada waktu tersebut, mayoritas masyarakatnya hidup dengan bertani.

Pada tahun 104 SM, di masa dinasti Han (202 SM - 221 M), kalender Xia kembali digunakan. Perlu diketahui bahwa kalender Xia memiliki format yang sama seperti kalender Imlek yang dikenal sekarang.

Akibat dari perkataan Confucius tersebut, Kaisar Han Wu, pemimpin dinasti Han, menetapkan tahun pertama dihitung sejak tahun kelahiran Confucius, yaitu 551 SM. Hal inilah yang menyebabkan tahun Imlek (sekarang 2574 Kongzili) berselisih 551 tahun dengan tahun Masehi.

Tradisi Imlek di Indonesia, baca selengkapnya di halaman berikut...



Simak Video "Video: Akulturasi Dua Tradisi Tionghoa-Hindu di Kongco Batur"

(afb/afb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork