- Sejarah Hari Raya Imlek
- Ritual dan Tradisi Imlek Memasang Dekorasi Serba Merah Membagikan Angpao Menyajikan Makanan Khas Imlek Menggunting Rambut Menyalakan Petasan dan Kembang Api Menggunakan Pakaian Baru Sembahyang Kepada Leluhur Membagikan Jeruk dan Mengunjungi Kerabat Pertunjukan Barongsai dan Liong Festival Cap Go Meh
Perayaan tahun baru Imlek selalu identik dengan harapan baru akan kemakmuran dan nasib baik di tahun yang akan datang. Tak hanya soal kemeriahan, momen ini menjadi waktu yang tepat bagi banyak orang untuk menata kembali semangat dan optimisme menghadapi tantangan ke depan.
Kepercayaan akan datangnya nasib baik sering kali diwujudkan melalui serangkaian ritual unik yang sarat makna filosofis. Simak ulasan lengkap mengenai ritual dan tradisi Imlek yang dipercaya ampuh mendatangkan keberuntungan di hari yang sakral ini.
Sejarah Hari Raya Imlek
Dikutip dari jurnal "Mitos Tradisi Perayaan Tahun Baru Imlek" yang ditulis Jepriyanti Br Tambunan, secara etimologi, kata Imlek berasal dari dialek Hokkian atau Yin Li dalam bahasa Mandarin yang memiliki arti kalender bulan (Lunar New Year).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut sejarahnya, Sin Cia atau Imlek merupakan perayaan yang dilakukan para petani di Tiongkok yang biasanya jatuh pada tanggal 1 di bulan pertama awal tahun baru. Perayaan ini berkaitan erat dengan pesta datangnya musim semi yang dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12, dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama, atau yang lebih dikenal dengan istilah Cap Go Meh.
Tradisi perayaan Imlek ini mulai dikenal sejak zaman Dinasti Xia. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke Indonesia yang dibawa para perantau asal Cina.
Di negara-negara tetangga geografis Tiongkok seperti Korea, Mongolia, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873), perayaan ini juga memiliki pengaruh besar dan dianggap sebagai hari libur besar.
Sejarah Imlek juga tidak lepas dari legenda mengenai NiΓ‘n, seekor raksasa pemakan manusia yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak, dan penduduk desa. Penduduk kemudian menemukan bahwa NiΓ‘n takut pada seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah.
Berdasarkan kepercayaan bahwa NiΓ‘n takut akan warna merah, penduduk mulai menggantungkan lentera dan gulungan kertas merah di pintu serta jendela, dan menggunakan kembang api untuk menakutinya.
Adat pengusiran NiΓ‘n inilah yang kemudian berkembang menjadi perayaan Tahun Baru. Istilah GuΓ² niΓ‘n yang berarti "Menyambut Tahun Baru", secara harfiah memiliki arti "Mengusir Nian".
Dalam legenda tersebut, diceritakan bahwa NiΓ‘n akhirnya ditangkap oleh dewa Taoisme bernama Hongjun Laozu dan dijadikan kendaraannya, sehingga tidak pernah kembali lagi ke desa.
Saat ini, perayaan Imlek meliputi sembahyang kepada Sang Pencipta (Thian) sebagai bentuk pengucapan syukur, doa, dan harapan agar mendapat rezeki lebih banyak di tahun depan.
Di berbagai wilayah dengan populasi suku Han yang signifikan seperti daratan Tiongkok, Hong Kong, Taiwan, Singapura, hingga Indonesia, tahun baru Imlek telah menjadi bagian dari budaya tradisional negara-negara tersebut.
Ritual dan Tradisi Imlek
Perayaan imlek erat dengan berbagai tradisi dan ritual yang senantiasa dilaksanakan masyarakat Tionghoa. Berikut beberapa di antaranya ritual dan tradisi Imlek yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Memasang Dekorasi Serba Merah
Ilustrasi Dekorasi Imlek di Pusat Perbelanjaan Foto: Tripa Ramadhan |
Warna merah merupakan simbol keberuntungan, meletakkan sumber cahaya dan hiasan di sudut rumah dipercaya mendatangkan kebaikan untuk Feng Shui rumah. Menurut kepercayaan Tionghoa, "nian", sejenis makhluk buas yang hidup di dasar laut atau gunung akan menampakkan diri saat musim semi atau saat Imlek.
Kemunculannya akan mengganggu manusia, terutama anak kecil. Namun, tidak perlu khawatir, dengan menghias rumah, pakaian, dan aksesori berwarna merah dipercaya dapat mengusir nian. Warna merah merupakan hal yang ditakuti nian, jadi tidak heran warna merah selalu mewarnai hari raya Imlek.
Membagikan Angpao
Ilustrasi Angpao Foto: dok. MR DIY |
Salah satu tradisi yang paling ditunggu adalah pembagian angpao. Memberi angpao hanya diberlakukan kepada mereka yang suda menikah kepada orang yang lebih tua dan anak-anak. Mereka yang belum menikah tidak diperbolehkan memberikan angpao karena dipercaya mengurangi keberuntungan dan menjauhkan dari jodoh.
Angpao biasanya diisi dengan sejumlah uang di dalamnya. Tidak harus bernominal besar, cukup berupa uang kertas yang baru dan bukan uang logam. Berbagi angpao dipercaya dapat memperlancar rejeki di kemudian hari.
Menyajikan Makanan Khas Imlek
Ilustrasi Makanan Khas Imlek Foto: Getty Images/iStockphoto/ThamKC |
Berkumpul bersama keluarga terasa kurang lengkap jika tidak makan malam bersama. Beragam varian menu (disarankan sembilan jenis atau lebih) dengan jumlah ganjil dianjurkan, konon makanan yang berjumlah genap hanya diperuntukkan bagi tawanan penjara sebelum hukuman mati.
Beragam menu yang biasa disajikan seperti ikan yang merupakan simbol kemakmuran, kue keranjang yang menjadi simbol persatuan, dan mie yang dimakan bersama-sama dengan makna rezeki dan kebahagiaan yang panjang dan tidak ada habisnya.
Menggunting Rambut
Menggunting rambut jelang malam tahun baru Imlek dapat membuang bala (kesialan) di tahun sebelumnya. Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, tidak boleh menggunting rambut saat tahun baru Imlek. Hal tersebut dipercaya dapat memotong keberuntungan mereka sepanjang tahun.
Menyalakan Petasan dan Kembang Api
Pesta kembang api Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Saat perayaan tahun baru Imlek selalu terdengar suara petasan dan kembang api di mana-mana. Kemeriahan itu bukan hanya sekedar seru-seruan saja, suara bising petasan dipercaya dapat mengusir roh jahat dan mendatangkan keberuntungan.
Menggunakan Pakaian Baru
Ilustrasi Baju Merah untuk perayaan Imlek Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom |
Tren mengenakan pakaian baru tidak hanya ada di hari raya umat Islam. Hari Imlek juga identik dengan pakaian baru, terutama yang berwarna merah. Tradisi ini melambangkan semangat baru, keberuntungan, dan harapan untuk tahun yang lebih baik.
Selain itu, tidak boleh bersih-bersih atau mencuci baju saat tahun baru Imlek. Membersihkan pakaian kotor dipercaya akan membuang rejeki yang baru didapatkan, sehingga pakaian harus bersih sebelum malam tahun baru Imlek.
Sembahyang Kepada Leluhur
Salah satu bentuk penghormatan kepada mereka yang berjasa di masa lampau, keluarga Tionghoa biasa melakukan sembahyang pada perayaan tahun baru Imlek. Ritual ini biasanya dilakukan di Klenteng atau di rumah dengan sesembahan yang sudah dipersiapkan.
Membagikan Jeruk dan Mengunjungi Kerabat
Ilustrasi Jeruk Imlek Foto: detikcom |
Jeruk mandarin biasa disebut "kim kiu" yang bermakna emas kecil. Tradisi membagikan jeruk mandarin dipercaya dapat membawa keberuntungan dan kebahagiaan bagi semua orang.
Selain itu, tradisi "bai nian" juga biasa dilakukan, yaitu mengunjungi keluarga dan teman untuk saling mengucapkan selamat tahun baru. Saat berkunjung, tidak lupa untuk membawa bingkisan seperti jeruk mandarin sebagai tanda kehormatan.
Pertunjukan Barongsai dan Liong
Pertunjukan Barongsai Foto: Ari Saputra/detikcom |
Salah satu tradisi yang menjadi ciri khas hari raya masyarakat Tionghoa, yaitu pertunjukan tarian singa (barongsai) dan naga (liong). Bukan hanya sebagai hiburan, barongsai dipercaya dapat mengusir energi negatif dan membawa keberuntungan. Diiringi dengan musik tradisional, menjadikan suasana Imlek lebih meriah.
Festival Cap Go Meh
Menutup perayaan Imlek, tepatnya pada hari ke-15, selalu dimeriahkan dengan festival Cap Go Meh. Pada perayaan festival Cap Go Meh, terdapat berbagai kegiatan khas seperti pawai besar, lampion cantik, dan tentunya berbagai macam makanan lezat khas Imlek seperti lontong Cap Go Meh.
Rangkaian ritual dan tradisi di perayaan tahun baru Imlek di atas memeriahkan hari yang penuh keberuntungan ini. Masing-masing memiliki makna mendalam yang mengingatkan kita untuk selalu bersyukur dan berharap yang terbaik untuk tahun-tahun selanjutnya. Semoga bermanfaat!
Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(ihc/irb)


















































