Aceh

Jangan Salah, ini Perbedaan Gelar Teuku dan Teungku di Aceh

Agus Setyadi - detikSumut
Kamis, 02 Jun 2022 09:18 WIB
Sejumlah anak-anak berada di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Rabu (10/11/2021). Masjid Raya Baiturrahman merupakan ikon Provinsi Aceh yang termasuk dalam salah satu masjid tertua dan termegah di Asia yang dibangun abad 16 pada masa Kerajaan Sultan Iskandar Muda yang menjadi objek wisata religi bagi wisatawan domestik dan mancanegara. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/aww.
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. (Foto: ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS)
Banda Aceh -

Sebagian besar masyarakat di luar Aceh masih belum dapat membedakan gelar teuku dan teungku. Dua gelar itu padahal disandang orang tertentu dan memiliki arti berbeda.

Gelar teuku sudah tidak asing di telinga masyarakat karena beberapa publik figur di tanah air menyandang gelar itu. Sebut saja Teuku Wisnu, Teuku Ryan, Teuku Rassya Islamay Pasya, Teuku Rifky Harsya dan banyak lagi.

Dikutip dari buku Uleebalang dari Kesultanan Hingga Revolusi Sosial (1514-1946) karya Hasbullah, gelar teuku dan teungku telah ada sejak masa Kesultanan Aceh. Pada tahun 1874, masih terdapat tiga jenis elit dalam masyarakat Tanah Rencong yaitu Sultan, uleebalang (teuku) dan ulama (teungku).


Uleebalang disebut berperan sebagai perpanjangan tangan kekuasaan atau pejabat dari Sultan Aceh dengan dikukuhkan, namun tidak diciptakan oleh syahbandar. Uleebalang juga diberi tugas mengepalai nanggroe atau negeri oleh Sultan Aceh.

Para uleebalang ini juga disebut semacam 'sultan' atau 'raja kecil' yang memimpin nanggroe. Uleebalang ini diberi gelar teuku untuk laki-laki dan cut untuk perempuan.

"Gelar teuku dan cut diperuntukkan untuk keluarga uleebalang/raja dan keluarganya di 'wilayah otonom' yang tunduk kepada Sultan Aceh. Gelar ini berlaku secara turun-temurun, meskipun mereka tidak menjabat sebagai uleebalang," tulis Hasbullah dalam bukunya.

Setelah ratusan tahun berlalu, kelompok uleebalang akhirnya memiliki kedudukan yang sama dengan masyarakat umum sejak 1962 lalu. Hal itu terjadi setelah berakhirnya perang DI/TII Aceh dan Teungku Muhammad Daud Beureueh kembali ke NKRI.

Meski uleebalang sudah tidak ada, nama teuku masih tetap dipakai di Aceh. Bila seorang ayah bergelar teuku mempunyai anak laki-laki, maka nama depan anaknya juga anak dibuat teuku.

Sementara teungku merupakan gelar keagamaan yang diberikan kepada santri, atau guru yang memiliki pengetahuan mengenai kitab-kitab keagamaan. Dikutip dari situs Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Jaya, gelar teungku diberikan baik kepada pria maupun wanita.

"Orang-orang yang memberikan pengajaran dasar mengaji Al-Qur'an juga sering diberi gelar teungku, termasuk juga orang-orang yang sudah menunaikan ibadah haji," tulis Kasubbag Pendataan dan dokumentasi adat MAA, Rafi'i dalam situs tersebut.

Budiman Sulaiman, dkk dalam buku Sistem Sapaan Bahasa Aceh menyebutkan, gelar teuku dan teungku juga kerap dipakai untuk menyapa seseorang.

Kata teuku biasa dipakai untuk menyapa golongan bangsawan laki-laki semua kelompok umur dan digunakan oleh masyarakat semua kelompok umur juga. Kalimat sapaan teuku itu disebut kerap dipakai masyarakat di Pidie, Aceh Besar, Aceh Utara dan Aceh Barat.

Sementara Teungku dipakai untuk menyapa orang yang berilmu pengetahuan dan umum. Di Aceh, hampir semua orang laki-laki disapa dengan sebutan teungku.

Dalam buku itu dijelaskan, sapaan teungku diperuntukkan untuk menyapa orang yang ahli atau berilmu dalam bidang agama Islam atau yang lebih taat dari kebanyakan orang, atau menjabat jabatan yang berhubungan dengan agama.

Jadi sudah tahu kan perbedaan antara teuku dan teungku?

(agse/dpw)