Sumatera Utara mengalami inflasi 0,19 persen per Juli 2026. Kenaikan harga cabai hijau dan beras turut jadi biang kerok terjadinya inflasi di Sumut.
"Sumut mengalami inflasi 0,19% secara bulanan per Juli 2026," ungkap Statistis Ahli Utama Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Misfaruddin, Senin (3/8/2026).
Berdasarkan data BPS Sumut, inflasi Sumut jauh di atas nasional yang justru malah mengalami deflasi 0,14%. Inflasi Sumut dipengaruhi oleh kenaikan beberapa komoditi, seperti cabai rawit dengan andil inflasi 0,17%, beras 0,07%, tomat 0,06%, bensin 0,05%, dan daging ayam ras sebesar 0,03%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"inflasi cabai rawit tertinggi diambil oleh Kabupaten Labuhanbatu sebesar 0,40%, disusul Karo sebesar 0,16% per Juli secara bulanan," ujarnya.
Sementara itu, Misfaruddin juga menyinggung kenaikan harga beras yang juga berefek dengan adil untuk inflasi di Sumut.
"Secara year to date sebenarnya andil inflasi beras itu di Juli 2026 0,14%. Andil inflasi beras tertinggi diambil oleh Kabupaten Labuhanbatu sebesar 0,24% secara bulanan," jelas Misfaruddin.
Sementara itu, beberapa komoditi yang menahan laju inflasi di Sumut seperti bawang merah yang deflasi 0,17%, emas perhiasan 0,07%, ikan tongkol 0,05%, jeruk 0,03%, maupun telur ayam ras sebesar 0,03%.
Dilihat dari 8 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), Kota Gunungsitoli menjadi kota dengan inflasi tertinggi di Sumut yang menembus 0,58%, disusul Deli Serdang sebesar 0,40%, dan Pematangsiantar sebesar 0,30%. Sementara Kota Medan mengambil posisi terbawah dengan inflasi 0,05%
