BI Ingatkan Ketidakpastian Global Masih Tinggi

BI Ingatkan Ketidakpastian Global Masih Tinggi

Tim detikFinance - detikSumut
Sabtu, 01 Agu 2026 02:00 WIB
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memberikan keterangan pers usai mengikuti rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (27/7/2026). Rapat tersebut membahas keterlibatan Danantara dalam KSSK untuk memperkuat koordinasi kebijakan dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian dan dunia usaha secara lebih menyeluruh. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/tom.
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta -

Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan ketidakpastian ekonomi global masih membayangi perekonomian dunia. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga BI akan terus memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi.

Destry menyoroti keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) beberapa hari lalu. Meski tidak ada perubahan suku bunga, ia menilai pernyataan Ketua The Fed menunjukkan ekonomi AS masih cukup solid sehingga pasar memperkirakan era suku bunga tinggi akan berlangsung lebih lama atau higher for longer. Saat ini, suku bunga acuan The Fed berada di kisaran 3,50% hingga 3,75%.

"Kondisi global kita ini sekarang memang ketidakpastiannya masih sangat tinggi. Walaupun dua hari yang lalu The Fed dalam FOMC sudah menyatakan mereka tidak menaikkan ataupun menurunkan suku bunganya," kata Destry secara daring dalam Editor Briefing yang digelar di Parapat, dilansir detikFinance, Jumat (31/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Destry, fenomena higher for longer tidak hanya tercermin dari tingkat suku bunga, tetapi juga terlihat pada tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS serta inflasi yang masih bertahan di level relatif tinggi.

"Nah ini artinya apa? Artinya di global ini mereka akan menghadapi situasi yang lumayan higher for longer. Maksudnya adalah situasi tinggi itu baik suku bunganya, baik itu yield bond atau obligasi pemerintah mereka, ataupun juga termasuk inflasinya," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia. Karena itu, Bank Indonesia bersama pemerintah perlu menyesuaikan kebijakan agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.

"Situasi higher for longer tentunya kita harus menjaga stabilitas. Karena konflik juga belum selesai, sehingga itu mengakibatkan barang-barang juga terganggu. Harga minyak tinggi, inflasi juga tinggi. Sehingga itu akan berdampak di kita," katanya.

Destry menambahkan, tantangan utama BI dalam jangka pendek adalah menjaga kestabilan nilai tukar rupiah di tengah gejolak ekonomi global sekaligus memastikan inflasi domestik tetap terkendali.

"Nah saat ini memang salah satu tantangan yang dalam jangka pendek ini dari kami di Bank Indonesia adalah bagaimana menjaga stabilitas itu baik itu dalam kaitannya dengan nilai rupiah ataupun inflasi," pungkasnya.



(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads